MAKROEKONOMI
Makroekonomi
membahas perilaku perekonomian secara menyeluruh,atau dengan perkataan
lain,keadaaan agregat dari kegiatan perekonomian seperti inflasi,pendapatan
nasional,kesempatan kerja,pengangguran dan sebagainya.
Tujuan
Utama Makroekonomi:
1.Output
dan tingkat konsumsi yang tinggi dengan laju pertumbuhannya yang cepat.
2.Kesempatan
kerja yang tinggi dan pengangguran yang rendah.
3.Stabilitas
tingkat harga(laju inflasi yang rendah) di man harga dan tingkat upah
ditetapkan oleh mekanisme pasr.
4.Keseimbangan
hubungan luar negri di mana nilai ekspor kurang lebih seimbang dengan nilai
impor,dan mata uang negara tersebut memiliki nilai kurs yang stabil terhadap
nilai mata uang asing.
Contoh Permasalahan Ekonomi Makro yang terjadi di
Indonesia:
a.
Masalah Kemiskinan dan
Pemerataan
b.
Krisis Nilai Tukar
c.
Masalah Utang Luar Negeri
d.
Masalah Perbankan dan Kredit
Macet
e.
Masalah Inflasi
f. Pertumbuhan
Ekonomi dan Pengangguran
Bentuk-bentuk
kebijakan ekonomi yang akan dilakukan oleh negara sangat tergantung pada
tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
1. Tujuan-tujuan Kebijakan Ekonomi Makro
Setiap
kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang
dihadapi. Tujuan-tujuan kebijakan ekonomi makro dapat dibedakan kepada empat
aspek berikut:
a. Menstabilkan kegiatan ekonomi / price
level stability.
b.
mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh tanpa inflasi / high employment
level. Beberapa hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan kesempatan kerja
adalah peran pemerintah dalam perluasan kesempatan kerja, pendekatan demand dan
supply of labor dalam perluasan kesempatan kerja, pemberdayaan masyarakat desa
dalam upaya perluasan kesempatan kerja, human capital sebagai upaya efektif
perluasan kerja, keuangan negara dan kesempatan kerja, kebijakan
ketenagakerjaan, serikat kerja, hubungan industrial, sistem ekonomi dan
kesempatan kerja.
c. Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang
teguh / long-term economic growth.
Pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah :
(1)
berlangsung terus menerus,
(2)
disertai dengan terciptanya lapangan kerja,
(3)
tidak merusak lingkungan,
(4)
lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk,
(5)
disertai dengan distribusi pendapatan yang adil,
(6)
kontribusi sektoral yang merata,
(7)
tidak meninggalkan sektor pertanian,
(8)kenaikannya
riil,
(9)
penyumbang terbesar PDB adalah warga domestik, bukan asing.
d. Kestabilan nilai tukar / exchange
rate stability.
Nilai
tukar merupakan nilai uang secara eksternal, yang tinggi rendahnya berdampak
pada berbagai aspek ekonomi dan sosial lainnya, misalnya :
(1)
impor dan ekspor,
(2)
APBN dan APBD,
(3)
kesehatan dan pendidikan,
(4)
transportasi,
(5)
industri dalam negeri,
(6)
politik
(7)
daya beli masyarakat,
(8)
dunia perbankan,
(9)
sektor pertanian, kelautan, peternakan, sektor properti , dan sebagainya.
2. Bentuk-bentuk Kebijakan Ekonomi Makro
1. Kebijakan Fiskal
Yaitu
kebijakan pemerintah yang dilakukan dengan cara mengubah penerimaan dan
pengeluaran negara. Atau kebijakan pemerintah yang membuat perubahan dalam
bidang per-pajakan (T) dan pengeluaran pemerintah (G) dengan tujuan untuk
mempengaruhi pengeluaran /permintaan agregat dalam perekonomian Kebijakan ini
diambil untuk menstabilkan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, mempertinggi
pertumbuhan ekonomi, dan keadilan dalam pemerataan pendapatan. Caranya dengan :
menambah atau mengurangi PAJAK dan SUBSIDI.
Instrumen
kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan
erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku
akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli
masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output.
Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta
menurunkan output industri secara umum.
Fungsi Kebijakan Fiskal
Fungsi
kebijakan fiskal yaitu untuk memperbaiki keadaan ekonomi,mengusahakan
kesempatan kerja(mengurangi pengangguran),dan menjaga kestabilan harga secara
umum.
Macam-macam
macam Kebijakan Fiskal:
a.Kebijakan fiskal stabilitator otomatis
Adalah
kebijakan sebagai alat stabilisasi kegiatan ekonomi,peralatan tersebut adalah
-Pembayaran
pajak otomatis
Sistem
perpajakan hampir tanpa disengaja memiliki kadar keluwesan otomatis,yaitu
penerimaan pajak condong meningkat di masa inflasi dan turun di masa depresi.
-Tunjangan
pengangguran dan pembayaran transfer
Tunjangan pengangguran memompa dana kedalam atau keluar sistem
perekonomian sehingga berfungsi
sebagai stabilitator.Bantuan pangan,santunan keluarga kurang mampu,pensiun muda
dan bagi pemerintah hal ini merupakan bantuan untuk menstabilkan siklus
ekonomi.
b.Kebijakan fiskal diskresioner
Adalah
kebijakn fiskal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalaha
ekonomiyang sedang dihadapi dan langkah-langkah pemerintah untuk mengubah
pengeluaran dan pemungutan pajak.Program-program pokok yang termasuk kebijakan
diskresioner menyangkut masyarakat umum yaitu:
-Pekerjaan
umum dan program pengeluaran lain
-Program
padat karya
-Program
pembayaran transfer
-Tarif
pajak
Kebijakan
Fiskal melalui Anggaran / Politik Anggaran :
a. Anggaran Defisit (Defisit Budget) /
Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran
defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari
pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik
digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.
b. Anggaran Surplus (Surplus Budget) /
Kebijakan Fiskal Kontraktif
Anggaran
surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar
daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika
perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk
menurunkan tekanan permintaan.
c. Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran
berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan
pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian
anggaran serta meningkatkan disiplin.
Menurut
pandangan Keynes, kebijakan fiskal (Fiscal Policy) adalah sangat penting untuk
mengatasi pengangguran. Prosesnya adalah;
a.
Pengurangan pajak penghasilan → akan menambah daya beli masyarakat dan akan meningkatkan pengeluaran
agregat.
b.
Peningkatan pengeluaran agregat dengan cara menaikkan pengeluaran pemerintah
untuk pembelian barang dan jasa maupun untuk menambah investasi.
c.
Selanjutnya dalam masa inflasi atau ketika kegiatan ekonomi telah full
employment, langkah sebaliknya harus dilakukan yaitu ; pajak dinaikkan dan
pengeluaran pemerintah akan dikurangi.
d.
Langkah ini akan menurunkan pengeluaran/permintaan agregat dan mengurangi
tekanan Inflasi.
Secara
garis besar berbagai jenis pajak yang dipungut pemerintah dapat digolongkan
sebagai berikut :
1.
Pajak langsung : yaitu pajak/jenis pungutan pemerintah yg.secara langsung
dikumpulkan dari wajib pajak, misal ; PPh.
2.
Pajak tak langsung : yaitu pajak yg.beban pemungutannya dapat
dipindah-tangankan kepada pihak lain, misal ; PPn, & PPn BM Pajak impor
dsb.
Demikian
pula perubahan-perubahan sebaliknya. Pemerintah seringkali menghadapi masalah
defisit anggaran. Ada beberapa sumber pembiayaan defisit anggaran :
1.
Pajak.
2.
Mencetak Uang Baru.
3.
Pinjaman Masyarakat Dalam Negeri.
4.
Pinjaman Masyarakat Luar Negeri.
Contoh kebijakan fiskal yang dikeluarkan
pemerintah:
-Kebijakan
tentang penghasilan tidak kena pajak yang dinaikkan 10% yang tertuang dalam
PP/UU APBN 2006(pajak ditanggung pemerintah).
-Subsidi
BBM dan listrik
-Kebijakan
fiskal mempunyai berbagai bentuk. salah satu bentuk kebijakan fiskal yang
sedang marak adalah BLT. banyak orang melihat BLT hanya bantuan kepada orang
yang kurang mampu. sebenarnya di balik itu ada tujuan khusus dari pemerintah.
BLT diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat, daya beli masyarakat juga meningkat. dengan demikian
permintaan dari masyarakat juga meningkat. meningkatnya permintaan dari
masyarakat akan mendorong produksi yang pada akhirnya akan memperbaiki kondisi
perekonomian Indonesia.
-Proyek-proyek
yang diadakan oleh pemerintah. Katakanlah
pemerintah mengadakan proyek membangun jalan raya. Dalam proyek ini pemerintah
membutuhkan buruh dan pekerja lain untuk menyelesaikannya. dengan kata lain
proyek ini menyerap SDM sebagai tenaga kerja. Hal ini membuat pendapatan orang
yang bekerja di situ bertambah. dengan bertambahnya pendapatan mereka akan
terjadi efek yang sama dengan BLT tadi.
-Kostumisasi
APBN oleh pemerintah. misalnya dengan deficit financing. DefIcit financing adalah anggaran
dengan menetapkan pengeluaran > penerimaan. deficit financing dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Dahulu
pemerintahan Bung Karno pernah menerapkannya dengan cara memperbanyak utang
dengan meminjam dari Bank Indonesia, yang terjadi kemudian adalah
inflasi besar-besaran (hyper inflation) karena uang yang beredar di masyarakat
sangat banyak. untuk menutup anggaran yang defisit dipinjamlah uang dari
rakyat. sayangnya, rakyat tidak mempunyai cukup uang untuk memberi pinjaman
pada pemerintah. akhirnya, pemerintah terpaksa meminjam uang dari luar negeri
2. Kebijakan Moneter
Kebijakan
yang diambil oleh Bank Sentral untuk MENAMBAH atau MENGURANGI jumlah uang yang
beredar di masyarakat. Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat
diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar.
Kebijakan moneter dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu:
a.
Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy. Adalah suatu kebijakan
dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
b.
Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu
kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga dengan
kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan
moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu
antara lain :
a. Operasi Pasar Terbuka (Open Market
Operation).
Operasi pasar terbuka adalah cara
mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga
pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar,
pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah
uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga
pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya
adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau
singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
b. Fasilitas Diskonto (Discount Rate).
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah
uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum.
Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank
sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat
bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang
yang beredar berkurang.
c. Rasio Cadangan Wajib (Reserve
Requirement Ratio).
Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah
dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah
jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan
jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio cadangan wajib.
d. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan
moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan
memberi himbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan
pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi
jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank
sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
e.Kebijakan Kredit Ketat
Yaitu
kebijakan pemerintah dengan cara mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara memperketat pemberian
kredit,kredit boleh diberikan asal memenuhi syarat 5
C,character,capability,colaterallal,capital dan condition.
f.Kebijakan Sanering
Yaitu
kebijakan memotong nilai nominal uang pada saat inflasi.
g.Kebijakan Revaluasi
Yaitu
kebijakan menaikkan nilai mata uang sendiri terhadap nilai mata uang asing.
Tolak Ukur Kebijakan Moneter
Setiap
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus memiliki target dan ukuran
keberhasilan. Hal ini penting, untuk mengukur atau sebagai acuan, apakah
kebijakan tersebut berhasil atau tidak. Dalam perekonomian beberapa indikator
yang biasanya digunakan untuk menilai kebijakan moneter adalah :
1.
Jumlah Uang Beredar (JUB)
Dari
kelima indikator tersebut, hanya JUB yang tidak dapat dimonitor dan dirasakan
lansung oleh masyarakat, sementara itu indikator nomor 2 sampai dengan 5,
relatif dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan alasan
ini, berikut ini akan dijelaskan secara ringkas dari keempat indikator tersebut
2.
Laju inflasi yang cukup rendah terkendali
Bagi
dunia perbankan laju inflasi yang tinggi akan menimbukan kesulitan bagi Bank
untuk mengerahkan dana masyarakat, karena dengan inflasi yang tinggi tersebut,
tingkat bunga riil (bunga nominal-inflasi) akan menurun, sehingga mengurangi
keinginan masyarakat untuk menyimpan kekayaannya dalam produk-produk perbankan.
Dampak selanjutnya adalah, bunga riil yang menurun bila dibandingkan tingkat
bunga riil di luar negeri akan memicu larinya dana masyarakat ke luar negeri,
karena dirasakan masyarakat lebih menguntungkan menyimpan dananya di luar
negeri.
3.
Suku bunga pada tingkat yang wajar
Selain
yang telah sering dijelaskan sebelumnya, bahwa dari sisi masyarakat tingginya
suku bunga memang akan menambah keinginan masyarakat untuk menyimpan dananya di
bank, namun di sisi lain, tingginya suku bunga tersebut akan mengurangi niat
dunia usaha untuk mengambil kredit bagi pengembangan usahanya. Akibatnya dana
yang sudah terlanjur masuk ke perbankan dengan adanya bunga tinggi tersebut,
tidak dapat tersalurkan dan menimbulkan permasalahan baru bagi perbankan,
yakni, Kemana dana masyarakat tersebut akan disalurkan ? Apabila masalah ini
tidak segera mendapat jalan keluar, maka perbankan terancam akan menghadapi
masalah likuiditas dan tentu saja masalah penghasilan dari bunga yang
seharusnya diperoleh.
4.
Nilai tukar rupiah yang realistis, dan
Nilai
tukar yang stabil tentu akan lebih memberi iklim kepastian bagi semua pelaku
usaha, termasuk sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat. Nilai tukar
rupiah yang rendah saat ini dapat dijadikan saat yang baik dunia usaha yang
berorientasi ekspor, dan ini dapat memicu peningkatan permintaan kredit dari
dunia usaha untuk melanjutkan dan meningkatkan produk ekspornya.
5.
Ekspektasi/harapan masyarakat terhadap moneter
Meskipun
lebih sulit untuk diukur, namun ekspektasi masyarakat mulai mendapat perhatian
besar dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia. Ekspektasi
umumnya terjadi melalui ekspektasi masyarakat terhadap tingkat inflasi dan
ekspektasi terhadap nilai tukar. Ekspektasi masyarakat yang berlebihan terhadap
besaran inflasi akan mendorong semakin tingginya harga-harga, sehingga akan
mengurangi tingkat konsumsi dan daya saing produk dalam negeri yang akan
diekspor. Sementara itu, ekspektasi masyarakat yang negatif terhadap nilai
tukar akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat pada mata uang
rupiah, sehingga dapat memicu mengalirnya dana masyarakat keluar negeri.
Strategi Kebijakan Moneter
Untuk
mendapatkan indikator moneter seperti disyaratkan di atas, pemerintah yang
dalam hal ini otoritas moneter, memerlukan strategi yang tepat dan sesuai
dengan kondisi di Indonesia. Secara umum, strategi moneter yang dapat dipilih
antara lain adalah :
1.
Startegi Kebijakan moneter longgar (Easy Monetary Policy) atau Strategi
kebijakan moneter ketat (Tight Monetary Policy)
Kebijakan
moneter longgar akan ditempuh untuk menggiatkan kembali perekonomian yang
sedang lesu, dengan cara mempermudah dan menambah jumlah uang beredar, agar
permintaan konsumsi naik.
2.
Countercyclical Monetary Policy atau Accomodative Monetary Policy Countercyclical
Monetary Policy
Untuk
memperlunak konjungtur/naik turunnya perekonomian, pemerintah perlu secara
aktif malakukan intervensi di pasar uang, yakni dengan melakukan ekspansi
moneter disaat perekonomian menghadapi masa resesi dan melakukan konstraksi
moneter saat perekonomian mengalami boom/laju yang terlalu cepat. Penjelasan
ini dapat dilihat pada gambar berikut
3.
Accomodatice Monetery Policy
Pendapat
kedua mengatakan, bahwa sebaiknya pemerintah menghindari intervensi untuk
memperlunak konjungtur perekonomian yang terjadi, dan membiarkannya terjadi
secara alami. Pendapat ini didasarkan pada pemikiran:
1.
Ekspektasi masyarakat dapat mengalahkan dampak dari variabel-variabel moneter
lainnya. Dengan kata lain, masyarakat telah mengantisipasi setiap kebijakan
yang akan diterapkan oleh masyarakat.
2.
Kebijakan pemerintah tidak dapat memberi dampak secara langsung dan segera.
Sebagai contoh; kebijakan moneter longgar yang ekspansif yang diterapkan saat
ekonomi lesu/resesi tidak akan segera kelihatan dampaknya saat itu juga, namun
butuh waktu dan itu dapat terjadi justru ketika perekonomian telah mencapai
tahap boom.
Efektifitas K ebijakan Moneter
Yang
dimaksud dengan efektifitas kebijakan moneter adalah, sejauh mana kebijakan
moneter yang ditempuh pemerintah (apapun bentuknya), memberi dampak positif
bagi perekonomian dan masyarakat, dalam arti :
a.
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi
b.
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
c.
dapat meningkatkan kesempatan kerja
d.
dapat meningkatkan penerimaan devisa negara
e.
serta memberi pengaruh pada kebijakan makro lainnya
Teori
yang membicarakan mengenai efektifitas kebijakan moneter ini diantaranya adalah
:
a.
Teori Natural Rate Hypothesis, yang percaya bahwa kebijakan hanya akan efektif
dan memberi dampak dalam jangka pendek saja, namun tidak akan efektif untuk
jangka panjang
b.
Teori Rational Expectation Hypothesis, yang percaya bahwa baik dalam jangka
pendek maupun dalam jangka panjang, kebijakan moneter tidak akan efektif untuk
memberi pemahaman yang lebih baik mengenai kedua teori tersebut, perhatikan
contoh kasus berikut ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, untuk
meningkatkan aktivitas ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat,
pemerintah akan menempuh kebijakan ekspansif (kebijakan moneter longgar).
Masalah Dan Kesulitan Penerapan K
ebijakan Moneter Di Negara Berkembang
Pemerintah
(dalam hal ini Bank Sentral) harus menggunakan kebijakan moneter untuk
mempengaruhi pengeluaran swasta dan masyarakat ke arah yang dinginkan dalam
kegiatan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Pada waktu resesi dan
tingkat pengangguran tinggi, pemerintah harus berusaha meningkatkan seluruh
pengeluaran masyarakat antara lain dengan cara meningkatkan penawaran uang
dalam masyarakat. Turunnya suku tingkat bunga menimbulkan gairah investasi yang
pada akhirnya meningkatkan permintaan agregat, dan akhirnya menurunkan tingkat
harga dan menaikkan output nasional. Kebijakan moneter yang dapat dilakukan
untuk mecapai tujuan ini adalah mengurangi tingkat cadangan minimum, menurunkan
tingkat bunga dan membeli surat-surat berharga dari masyarakat. Pada masa
inflasi dan ekonomi yang memanas, kebijakan moneter dilakukan haruslah berjalan
ke arah yang sebaliknya.
Dengan
demikian, salah satu tugas dari kebijakan moneter adalah menyediakan
pertambahan penawaran uang yang cukup sehingga usaha-usaha pembangunan dapat
berjalan lancar. Pada masa terjadi kelebihan permintaan dan inflasi, penawaran
uang dalam masyarakat harus dikurangi. Di negara-negara berkembang kebijakan
ini harus mencakup juga kebijakan untuk mempengaruhi penawaran uang tunai dalam
masyarakat, yaitu dengan berusaha menarik uang tersebut dari tangan masyarakat,
sehingga akan menurunkan tingkat pengeluarannya. Cara yang dapat ditempuh
dengan menarik uang tersebut ke dalam sistem perbankan, misalnya dengan cara
memberikan bunga yang tinggi kepada nasabah deposito berjangka.
Contoh Kebijakan moneter di Indonesia:
pada saat itu memang seluruh tabungan dijamin oleh pemerintah, maka dari itu pemerintah juga harus mengambil tindakan saat terjadi fenomena tadi.
seharusnya saat suatu perusahaan (termasuk bank umum) kekurangan modal pemilik harus menambah modalnya pada perusahaan tersebut. ini berlaku pada umum dan pemerintah. jika pemerintah kekurangan dana, pemerintah bisa menambah dana dengan menjual saham yang dimiliki pemerintah. perlu diingat, ada beberapa perusahaan yang sahamnya dimiliki pemerintah.
Contoh
Kasus
Akibat
dari krisis ekonomi 1998 yang menyebabkan sektor riil macet dan hiperinflasi,
Utang Indonesia pada tahun 2000 mencapai Rp 1.226,1 triliun atau sekitar
96%dari PDB. Meningkatnya beban utang tersebut hampir seluruhnya ditimbulkan
karena utang dalam negeri dengan jumlah yang besar sebagai akibat dari upaya
kita untuk menyelamatkan sektor pebankan yang kacau akibat krisis. Jumlah utang
dalam negeri terakumulasi sebesar Rp 643 triliun, yang ditimbulkan akibat tiga
kebijakan pokok atau kebijakan fiskal yang diambil dari pihak pemerintah untuk
menopang perbankan nasional selama krisis, diantaranya adalah kebijakan BLBI,
kebijakan penjaminan bank, kebijakan rekapitalisasi.
Kebijakan
BLBI,
untuk mengatasi situasi darurat berupa kelangkaan likuiditas yang akut sebagai
akibat dari arus dana keluar yang tidak terbendung dan makin membesar dalam
perekonomian. Kebijakan penjaminan bank, untuk mengatasi krisis
kepercayaan, dengan memberikan jaminan penuh kepada nasabah dan kepada mereka
yang bertransaksi dengan bank. Rekapitalisasi Bank, selanjutnya adalah
bagaimana membuat agar bank-bank yang tersisa setelah gelombang proses
penutupan pada tahun 1998-1999 dapat beroperasi secara normal.
Kebijakan Moneter Dalam Pembangunan
Masalah
dan cakupan dalam pembahasan makroekonomi dapat digolongkan atas empat kelompok
besar, yaitu pertumbuhan ekonomi (growth), inflasi (inflation), pengangguran
(unemployment) dan necara pembayaran (balance of payment). Untuk menangani
persoalan-persoalan makroekonomi tersebut, misal ingin meningkatkan atau
mengejar pertumbuhan ekonomi pada suatu tingkat tertentu, secara teoritis dapat
didekati dengan dua cara, yaitu :
1.
Demand management. Pendekatan ini dilakukan pada upaya pengendalian
makroekonomi yang bertumpu pada pengelolaan permintaan agregat atau aggregate
demand (AD), artinya demand management adalah kebijakan pengendalian
makroekonomi yang utama. Ada dua kebijakan pokok dengan pendekatan ini yaitu
kebijakan fiskal (fiscal policy) dan kebijakan moneter (monetary policy).
Kebijakan fiskal biasanya eksekusinya lambat, karena untuk
mengimplementasikannya harus melalui prosedur yang cukup panjang, misalnya
perlu pembahasan (public hearing) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun
demikian, dari segi efektivitas kebijakan ini lebih ampuh. Di sisi lain,
kebijakan moneter, merupakan kebijakan yang dapat dieksekusi secara cepat atau
dapat dilakukan seketika, karena kebijakan ini dimiliki oleh otoritas moneter
dalam hal ini Bank Indonesia. Namun, seringkali pengaruh kebijakan tersebut
lambat dan tidak selalu seperti yang diharapkan dan biasanya sifatnya untuk
mengatasi masalah dalam jangka pendek atau sesaat saja.
2.
Supply Management. Upaya pengendalian makroekonmi dengan pendekatan ini sampai
saat ini masih sulit dilakukan, karena menyangkut teknologi yang sifatnya
jangka panjang. Teori Keynes yang merupakan demand side dari makroekonomi masih
mendominasi kebijakan yang dipegang pada sebagian besar negara. Apa yang
terjadi dengan harga dan output (GNP) hanya mengikuti apa yang terjadi dengan
permintaan agregat. Sehingga kebijakan-kebijakan makro harus diarahkan
bagaimana mempengaruhi permintaan agregat agar pada tingkat yang sesuai dengan
yang diinginkan. Menurut dasar logika ini, penawaran agregat (aggregat supply)
dianggap seolah-olah sebagai sesuatu yang (paling tidak dalam jangka pendek)
tidak dapat dipengaruhi secara langsung, tetapi hanya secara tidak langsung
lewat permintaan agregat.
Dari
uraian di atas menunjukkan bahwa pemikiran makro ekonomi Keynes dengan demand
managemant masih mendominasi dalam memecahkan persoalan-persoalan makroekonomi
3. Kebijakan Pendapatan
Merupakan
kebijakan pendapatan (incomes policy),kebijakan pemerintah yang secara langsung
berusaha menahan upah dan harga dalam rangka memperlambat inflasi,atau dapat
juga dikatakan sebagai langkah pemerintah yang bertujuan mengendalikan tuntutan
kenaikan pendapatan kerja.Inti darai kebijakn ini adalah pengendalian ketat
atas tingkat upah ,atau ajakan pemerintah kepada serikat-serikat buruh dan
perusahaan besar agar menyetujui tingkat upah yang wajar.Tujuan ini
dilaksanakan dengan berusaha mencegah kenaikan pendapatan yang berlebihan.
Pemerintah akan melarang tuntutan kenaikan upah yang melebihi kenaikan
produktivitas pekerja. Kebijakan seperti itu akan menghindari kenaikan biaya
produksi yang berlebihan. Bentuk kebijakan antara lain adalah pedoman upah
harga secara sukarela sampai ke bentuk pengendalian langsung atas harga
,upah/gaji melalui undang-undang.Kebjakan
pendapatan merupaka instrument makroekonomi yang paling
kontroversial.Kebanyakan ekonom menyatakan
bahwa kebijakan ini sama sekali tidak bermanfaat ada juga yang
berpendapat bahwa jenis kebijakan ini mencampuri pola pasar bebas tanpa bisa
mempengaruhi laju inflasi sedikit pun.Akan tetapi ada juga yang mengakui bahwa
kebijakan ini memang tidak sempurna.Seperti biasa mereka berpendapat bahwa
jenis kebijakan ini masih lebih baik daripada kebijakan yang menyebabka
tingginya tingkat pengangguran.
Kebijakan
segi penawaran lebih menekankan kepada:
a.
meningkatkan kegairahan tenaga kerja untuk bekerja
b.
meningkatkan usaha para pengusaha untuk mempertinggi efisiensi kegiatan
produksinya.
4.Kebijakan
Ekonomi Luar Negri
Tujuan
pokok makroekonomi ini menyangkut hubungan ekonomi suatu negara dengan pihak
luar.Termasuk dalam kebijakan ini adalah penanganan nilai kurs valuta
asing,penerapan cara pengawasan perdagangan internasional berupa tarif atau
subsidi,atau bahkan mendorong pengangguran untuk menstabilkan perdagangan luar
negrinya. Pada hakikatnya semua bentuk perekonomian adalah terbuka impor dan
ekspor barang dan jasa antarnegara diselenggarakan negara yang satu meminjam atau meminjamkan
kredit kepada negara yang lain.Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama antara
negara satu dengan negara-negara yang lainnya.Kebijakan ini seperti intrvensi atas nilai kurs devisa,kebijakan
perdagangan atau pun kebijakan fiskal moneter,digunakan sebagai upaya untuk
mempertahankan keseimbangan pasar valuta asing serta untuk mencegah lonjakan
ekspoer dan impor yang tidak terkendali.
MIKROEKONOMI
Ekonomi
Mikro bisa didefinisikan sebagai hubungan antara produsen dengan konsumen atau
antara pemilik modal dengan pemilik faktor produksi. Hubungan itu bisa digambarkan
sebagai berikut :
Pasar Barang dan Jasa
Rumah tangga Rumah tangga
Perusahaan Konsumen
Pasar faktor produksi
Proses interaksi yang terjadi di pasar mengakibatkan perputaran uang antar konsumen dan produsen berjalan dengan lancar. Rumah tangga konsumen memperoleh uang pada pasar faktor produksi, sementara rumah tangga produsen memperoleh uang melalui penjualan barang dan jasa. Kondisi ini disebut sebagai simbiosis mutualisme antara sektor rumah tangga perusahaan dan rumah tangga konsumen.Alfred Marshal menyebut bahwa permintaan akan faktor produksi merupakan turunan ( derived demand ) dari permintaan akan barang dan jasa yang timbul karena kebutuhan manusia.
Besarnya pendapatan baik produsen maupun konsumen tergantung pada :
1.Kuantitas faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan
2.Jumlah barang dan jasa yang berhasil diciptakan dengan adanya proses produksi.
3.Tingkat harga penggunaan yang berlaku, karena faktor produksi juga mempunyai harga yang akan menjadi biaya produksi bagi perusahaan
Permintaan akan barang timbul karena individu pada sektor rumah tangga :
a.Memerlukan barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
b.Memiliki daya beli ( pendapatan berupa uang ) yang diperoleh dari penjualan atas faktor – faktor produksi yang dimilikinya ke sektor rumah tangga perusahaan
Pasar Barang dan Jasa
Rumah tangga Rumah tangga
Perusahaan Konsumen
Pasar faktor produksi
Proses interaksi yang terjadi di pasar mengakibatkan perputaran uang antar konsumen dan produsen berjalan dengan lancar. Rumah tangga konsumen memperoleh uang pada pasar faktor produksi, sementara rumah tangga produsen memperoleh uang melalui penjualan barang dan jasa. Kondisi ini disebut sebagai simbiosis mutualisme antara sektor rumah tangga perusahaan dan rumah tangga konsumen.Alfred Marshal menyebut bahwa permintaan akan faktor produksi merupakan turunan ( derived demand ) dari permintaan akan barang dan jasa yang timbul karena kebutuhan manusia.
Besarnya pendapatan baik produsen maupun konsumen tergantung pada :
1.Kuantitas faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan
2.Jumlah barang dan jasa yang berhasil diciptakan dengan adanya proses produksi.
3.Tingkat harga penggunaan yang berlaku, karena faktor produksi juga mempunyai harga yang akan menjadi biaya produksi bagi perusahaan
Permintaan akan barang timbul karena individu pada sektor rumah tangga :
a.Memerlukan barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
b.Memiliki daya beli ( pendapatan berupa uang ) yang diperoleh dari penjualan atas faktor – faktor produksi yang dimilikinya ke sektor rumah tangga perusahaan
Teori Perilaku Konsumen Dalam melakukan kegiatan konsumsinya, perilaku konsumen dituntun oleh tujuannya untuk memperoleh kepuasan. Terdapat beberapa pendekatan permintaan individu yaitu :
Ada 2 cara pendekatan yaitu :
1.Pendekatan Cardinal
2.Pendekatan Ordinal
1. Pendekatan kardinal , asumsi dasarnya:
a.Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur, util
b.Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan
c.Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil. ( Mula – mula kepuasan akan naik sampai dengan titik tertentu atau saturation point tambahan kepuasan akan semakin turun ). Hukum ini menyebabkan terjadinya Downward sloping MU curva. Tingkat kepuasan yang semakin menurun ini dikenal dengan hukum Gossen.
d.Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya. Jika konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan mau membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan konsumen redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah.
Pendekatan kardinal biasa disebut sebagai Daya guna marginal
Asumsi seorang konsumen
1.Konsumen harus rasional yaitu menginginkan kepuasan maksimal.
2.Konsumen punya preferensi jelas akan barang dan jasa
3.Terdapat kendala anggaran
Dalam teori perilaku konsumen dengan pendekatan ordinal asumsi dasar seorang konsumen adalah :
1.Konsumen rasional, mempunyai skala preferensi dan mampu merangking kebutuhan yang dimilikinya
2.Kepuasan konsumen dapat diurutkan, ordering
3.Konsumen lebih menyukai yang lebih banyak dibandingkan lebih sedikit, artinya semakin banyak barang yang dikonsumsi menunjukkan semakin tingginya tingkat kepuasan yang dimilikinya.
Pendekatan ordinal membutuhkan tolok ukur pembanding yang disebut dengan indeferent kurve. Kurva Indeferent adalah Kurva yang menghubungkan titik – titik kombinasi 2 macam barang yang ingin dikonsumsi oleh seorang individu pada tingkat kepuasan yang sama.
3. Fungsi Belanja
Untuk memenuhi kebutuhannya, konsumen membeli barang / jasa X dan Y yang akan dikonsumsinya. Pola belanja yang kita gunakan di sini adalah menggunakan habis seluruh uangnya untuk belanja barang / jasa ( asumsi full employment dari pandangan Klasik Secara grafis, fungsi belanja bisa digambarkan dalam Budget Line atau kendala anggaran. Budget Line adalah garis yang menghubungkan titik – titik kombinasi barang X dan Y yang mampu dibeli oleh konsumen pada tingkat pendapatan tertentu.
Pengaruh jenis barang terhadap permintaan konsumen.
1.Barang normal, barang – barang pada umumnya , Pendapatan naik maka akan mengakibatkan permintaan terhadap barang tersebut bertambah dan sebaliknya . Harga turun menyebabkan permintaan naik dan sebaliknya
2.Barang inferior, barang kurang disukai/ lebih rendah dibandingkan barang normal. Misal jagung terhadap beras. Pendapatan bertambah mengakibatkan permintaan akan barang tersebut justru berkurang dan sebaliknya .
3.Barang superior, barang mewah , Pendapatan bertambah mengakibatkan permintaan bertambah dan sebaliknya. Harga naik menyebabkan permintaan turun dan sebaliknya . Seperti kasus pada barang normal.
Teori Perilaku Produsen
Permasalahan seorang produsen adalah bagaimana dengan modal yang terbatas bisa menciptakan barang dengan kualitas dan kuantitas yang cukup. Peran penting seorang produsen adalah sebagai berikut :
1.Produsen menjadi manajer yang mengkoordinasikan faktor – faktor produksi baik tenaga kerja/ L , tanah/ sumber daya alam, N, capital/ modal, bahan baku dan enterpreneur / keahlian yang ada dalam masyarakat.
2.Mempunyai insiatif dan daya kreatif untuk inovasi – inovasi baru termasuk dalam IPTEK.
3.Mengambil keputusan kebijakan bisnis
4.Mampu menganalisis kondisi ekonomi secara makro yang sedang berlangsung dalam negara tersebut.
5.Kemampuan untuk memilih WHAT (Brg apa yang dibuat ), HOW ( Bgmn cara paling efisien untuk membuatnya ), WHO ( siapa yang terjun langsung dan tidak langsung dalam proses produksi ), WHOM ( Untuk siapa barang tersebut dibuat ). Di sini diharapkan seorang produsen mempunyai kepekaan untuk melihat pasar yang paling menguntungkan.
Dalam kenaikan produksi terdapat 2
1.Economies of Scale yaitu apabila biaya per unit menurun dengan semakin bertambahnya produksi atau disebut Decreasing Cost. Kondisi ini yang diharapkan oleh setiap perusahaan yang berproduksi/ efisiensi produksi.
2.Diseconomies of Scale yaitu dengan peningkatan produksi justru menyebabkan kenaikan biaya per unit. Kondisi ini harus segera dicari penyebabnya di mana munculnya inefisiensi.
Untuk mengatasi agar tidak terjadi Diseconomies of Scale yang mengakibatkan banyak kerugian pada Perusahaan, maka jangka panjang diperlukan beberapa faktor berikut ini :
a.Spesialisasi Tenaga Kerja, Dengan jumlah tenaga kerja yang relatif banyak dan dilakukan pembagian maka masing – masing tenaga kerja akan mampu berkonsentrasi pada pekerjaan . Selain itu spesialisasi akan menghasilkan keahlian khusus dan cekatan bagi seorang tenaga kerja.
b.Spesialisasi Manajemen, Spesialisasi ini menyebabkan fokus dari seorang manajer atas pekerjaan tertentu misalnya manajer pemasaran, manajer produksi, HRD dan sebagainya. Yang akan mendorong suatu perusahaan untuk cepat berkembang.
c.Pemanfaatan Peralatan Kapital secara maksimal.
d.Produk sampingan. Hal ini dilakukan untuk memperkecil limbah yang harus dibuang dan juga memanfaatkan daur ulang dari produk tersebut. Misalnya Pabrik gula memanfaatkan produk sampingan berupa spirtus.
Pendapatan/Revenue
Selain
biaya produksi, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah berapa jumlah
pendapatan yang akan diperoleh dengan memproduksi barang tersebut.
Total Revenue (TR) Yaitu total pendapatan yang akan diperoleh seorang produsen apabila memproduksi sejumlah unit barang tertentu.
Kuantitas Barang ( Q ) yaitu total jumlah barang yang diproduksi oleh seorang produsen
Average Revenue ( AR ) yaitu harga rata – rata unit barang AR = TR /Q
Seorang produsen yang rasional pasti mengharapkan pendapatan yang dia peroleh harus lebih besar dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkannya.
Keseimbangan pertmintaan dan penawaran
Demand/ Permintaan
Pengertian Permintaan adalah fungsi yang menunjukkan berbagai jumlah produk yang ingin dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.
Kurva permintaan menunjukkan hubungan terbalik antara harga dengan jumlah barang yang diminta dan berlereng/ slope negatif yang artinya kenaikan harga akan mengakibatkan penurunan jumlah barang yang diminta.
Total Revenue (TR) Yaitu total pendapatan yang akan diperoleh seorang produsen apabila memproduksi sejumlah unit barang tertentu.
Kuantitas Barang ( Q ) yaitu total jumlah barang yang diproduksi oleh seorang produsen
Average Revenue ( AR ) yaitu harga rata – rata unit barang AR = TR /Q
Seorang produsen yang rasional pasti mengharapkan pendapatan yang dia peroleh harus lebih besar dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkannya.
Keseimbangan pertmintaan dan penawaran
Demand/ Permintaan
Pengertian Permintaan adalah fungsi yang menunjukkan berbagai jumlah produk yang ingin dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.
Kurva permintaan menunjukkan hubungan terbalik antara harga dengan jumlah barang yang diminta dan berlereng/ slope negatif yang artinya kenaikan harga akan mengakibatkan penurunan jumlah barang yang diminta.
Faktor
– faktor yang mempengaruhi permintaan selain harga barang tersebut adalah
sebagai berikut :
a.Selera, perubahan selera konsumen bisa terjadi karena faktor mode dan iklan
b.Jumlah konsumen, pertambahn penduduk akan mengakibatkan jumlah konsumen yang semakin meningkat dan mengubah permintaan
c.Pendapatan konsumen.Pada kasus barang normal pertambahan pendapatan akan menaikkan permintaan sementara untuk barang inferior, pertambahan pendapatan justru akan menyebabkan penurunan permintaan.
d.Harga barang lain. Pengaruh perubahan harga barang tergantung apakah barang tersebut sifatnya substitusi / saling menggantikan atau barang komplementer/ saling melengkapi.
e.Ekspektasi/ Harapan akan masa depan. Apabila ekspektasi positif, artinya harga barang diharapkan normal maka tidak mempengaruhi permintaan tetapi apabila ekspektasinya negatif di mana harga barang diharapkan akan naik akan mengakibatkan kenaikan permintaan.
Kelima faktor tadi mengakibatkan perubahan permintaan sementara harga barang itu sendiri mengakibatkan perubahan dalam jumlah barang yang diminta. Perbedaan jumlah barang dan diminta dan perubahan permintaan adalah :
Perubahan jumlah barang yang diminta artinya kurva permintaan tetap hanya naik turun titik pada kurva tersebut.
Perubahan permintaan artinya perubahan kurva permintaan secara keseluruhan bergeser ke kanan atas atau ke kiri bawah.
Supply/ Penawaran
Pengertian Penawaran adalah sejumlah kuantitas barang tertentu yang ingin dijual oleh produsen pada berbagai tingkat harga dalam periode waktu tertentu.
Selain harga, faktor – faktor yang mempengaruhi fungsi penawaran adalah sebagai berikut :
a.Tehnik produksi dan harga faktor produksi. Karena hal yang terpenting dalam penentuan harga suatu barang adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat barang itu sendiri.
b.Perubahan harga barang lain. Hal ini berkaitan dengan sifat barang lain tersebut apakah substitusi ataukah komplementer.
c.Ekspektasi di masa depan. Apabila ekspektasi harga positif artinya tidak ada kemungkinan kenaikan harga relatif tinggi di masa depan maka penawaran akan tetap, sebaliknya apabila ada ekspektasi harga akan naik maka produsen akan mengurangi penawaran dan menimbun barang untuk dijual di masa yang akan datang.
d.Banyaknya produsen. Semakin banyak produsen artinya penawaran bertambah dan sebaliknya apabila jumlah produsen sedikit, penawaran akan berkurang.
Keseimbangan Antara Supply dan Demand
Unsur yang paling penting dalam Pasar adalah harga dan jumlah barang yang disepakati oleh konsumen maupun oleh produsen. Dalam pasar, penawaran dan permintaan akan melakukan tarik – menarik atau Bargaining Power untuk membentuk harga dan kuantitas yang disepakati.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan pasar selain faktor harga.
a.Selera, perubahan selera konsumen bisa terjadi karena faktor mode dan iklan
b.Jumlah konsumen, pertambahn penduduk akan mengakibatkan jumlah konsumen yang semakin meningkat dan mengubah permintaan
c.Pendapatan konsumen.Pada kasus barang normal pertambahan pendapatan akan menaikkan permintaan sementara untuk barang inferior, pertambahan pendapatan justru akan menyebabkan penurunan permintaan.
d.Harga barang lain. Pengaruh perubahan harga barang tergantung apakah barang tersebut sifatnya substitusi / saling menggantikan atau barang komplementer/ saling melengkapi.
e.Ekspektasi/ Harapan akan masa depan. Apabila ekspektasi positif, artinya harga barang diharapkan normal maka tidak mempengaruhi permintaan tetapi apabila ekspektasinya negatif di mana harga barang diharapkan akan naik akan mengakibatkan kenaikan permintaan.
Kelima faktor tadi mengakibatkan perubahan permintaan sementara harga barang itu sendiri mengakibatkan perubahan dalam jumlah barang yang diminta. Perbedaan jumlah barang dan diminta dan perubahan permintaan adalah :
Perubahan jumlah barang yang diminta artinya kurva permintaan tetap hanya naik turun titik pada kurva tersebut.
Perubahan permintaan artinya perubahan kurva permintaan secara keseluruhan bergeser ke kanan atas atau ke kiri bawah.
Supply/ Penawaran
Pengertian Penawaran adalah sejumlah kuantitas barang tertentu yang ingin dijual oleh produsen pada berbagai tingkat harga dalam periode waktu tertentu.
Selain harga, faktor – faktor yang mempengaruhi fungsi penawaran adalah sebagai berikut :
a.Tehnik produksi dan harga faktor produksi. Karena hal yang terpenting dalam penentuan harga suatu barang adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat barang itu sendiri.
b.Perubahan harga barang lain. Hal ini berkaitan dengan sifat barang lain tersebut apakah substitusi ataukah komplementer.
c.Ekspektasi di masa depan. Apabila ekspektasi harga positif artinya tidak ada kemungkinan kenaikan harga relatif tinggi di masa depan maka penawaran akan tetap, sebaliknya apabila ada ekspektasi harga akan naik maka produsen akan mengurangi penawaran dan menimbun barang untuk dijual di masa yang akan datang.
d.Banyaknya produsen. Semakin banyak produsen artinya penawaran bertambah dan sebaliknya apabila jumlah produsen sedikit, penawaran akan berkurang.
Keseimbangan Antara Supply dan Demand
Unsur yang paling penting dalam Pasar adalah harga dan jumlah barang yang disepakati oleh konsumen maupun oleh produsen. Dalam pasar, penawaran dan permintaan akan melakukan tarik – menarik atau Bargaining Power untuk membentuk harga dan kuantitas yang disepakati.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan pasar selain faktor harga.
Pajak dan Subsidi
Tugas
utama pemerintah untuk mencapai tujuan kemapanan ekonomi adalah dengan
menstabilkan harga. Harga dituntut untuk dinamis namun stabil, artinya kenaikan
harga masih dalam batas yang bisa ditelolerir dan tidak fluktuatif. Terdapat
banyak mekanisme yang dilakukan oleh pemerintah misalnya dengan bertindak
sebagai penjual sekaligus pembeli untuk barang tertentu. Misalnya dilakukan
oleh pemerintah untuk menjamin ketersediaan beras melalui Bulog.
Salah satu mekanisme lain yang dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga adalah dengan pajak dan subsidi. Baik pajak maupun subsidi dilakukan pemerintah dengan memperhatikan dua pihak yaitu produsen dan konsumen. Tarik – menarik mengenai jumlah pajak yang ditanggung maupun subsidi yang dinikmati oleh konsumen dan produsen tergantung dari elastisitas barang tersebut. Makin pokok atau penting nilai suatu barang bagi konsumen akan mengakibatkan semakin besar pajak yang diatnggung oleh konsumen dan makin sedikit subsidi yang bisa dinikmatinya dan sebaliknya apabila tingkat/ nilai kepentingan barang itu semakin rendah.
Dengan adanya pajak dan subsidi maka keseimbangan pasar akan berubah. Bagaimana dampak pengenaan pajak dan subsidi kita bahas berikut ini.
Salah satu mekanisme lain yang dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga adalah dengan pajak dan subsidi. Baik pajak maupun subsidi dilakukan pemerintah dengan memperhatikan dua pihak yaitu produsen dan konsumen. Tarik – menarik mengenai jumlah pajak yang ditanggung maupun subsidi yang dinikmati oleh konsumen dan produsen tergantung dari elastisitas barang tersebut. Makin pokok atau penting nilai suatu barang bagi konsumen akan mengakibatkan semakin besar pajak yang diatnggung oleh konsumen dan makin sedikit subsidi yang bisa dinikmatinya dan sebaliknya apabila tingkat/ nilai kepentingan barang itu semakin rendah.
Dengan adanya pajak dan subsidi maka keseimbangan pasar akan berubah. Bagaimana dampak pengenaan pajak dan subsidi kita bahas berikut ini.
Pajak
Pajak yang kita bahas di sini adalah pajak pertambahan nilai yaitu sejumlah uang yang dikenakan oleh pemerintah untuk barang tertentu. Yang besarnya bisa ditentukan secara nominal atau merupakan prosentase tertentu terhadap harga barang tersebut.
Besar kecilnya prosentase pajak yang ditanggung baik oleh konsumen maupun produsen ditentukan oleh elastisitas barang. Apabila barang elastis maka produsen akan menanggung beban lebih banyak sementara apabila inelastis maka konsumen yang menanggung lebih banyak.
Subsidi
Subsidi merupakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk mengurangi tingginya harga. Subsidi merupakan kebalikan dari pajak, dimana dengan diberikannya subsidi maka akan menyebabkan harga jual menjadi lebih murah dan barang yang terjual menjadi lebih banyak.
Pajak yang kita bahas di sini adalah pajak pertambahan nilai yaitu sejumlah uang yang dikenakan oleh pemerintah untuk barang tertentu. Yang besarnya bisa ditentukan secara nominal atau merupakan prosentase tertentu terhadap harga barang tersebut.
Besar kecilnya prosentase pajak yang ditanggung baik oleh konsumen maupun produsen ditentukan oleh elastisitas barang. Apabila barang elastis maka produsen akan menanggung beban lebih banyak sementara apabila inelastis maka konsumen yang menanggung lebih banyak.
Subsidi
Subsidi merupakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk mengurangi tingginya harga. Subsidi merupakan kebalikan dari pajak, dimana dengan diberikannya subsidi maka akan menyebabkan harga jual menjadi lebih murah dan barang yang terjual menjadi lebih banyak.
Elastisitas
Elastisitas
adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar perubahan nilai suatu variabel
yang diakibatkan perubahan variabel lain yang mempengaruhinyaElastisitas
Permintaan
Adalah seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta dengan adanya perubahan harga. Suatu barang dikatakan elastis apabila pembeli/ konsumen responsif terhadap perubahan harga yang ditetapkan. Besar kecilnya elastisitas tergantung pada besar kecilnya perubahan jumlah barang yang diminta karena perubahan harga tersebut.
Adalah seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta dengan adanya perubahan harga. Suatu barang dikatakan elastis apabila pembeli/ konsumen responsif terhadap perubahan harga yang ditetapkan. Besar kecilnya elastisitas tergantung pada besar kecilnya perubahan jumlah barang yang diminta karena perubahan harga tersebut.
Elastisitas Penawaran
Pengertian
elastisitas penawaran sama dengan elastisitas permintaan. Hanya dilihat dari sisi
produsen. Apabila terjadi perubahan harga berapa besar perubahan jumlah barang
yang ditawarkan.
Faktor – Faktor yang mempengaruhi elastisitas adalah sebagai berikut :
1.Substitubilitas. Semakin banyak barang substitusi atau barang pengganti yang tersedia maka semakin besar elastisitasnya. Karena perubahan harga sedikit saja akan mengakibatkan konsumen mengubah besarnya barang yang diminta, demikian juga dari sisi produsen.
2.Proporsi pendapatan yang dibelanjakan untuk barang tersebut. Semakin banyak proporsi pendapatan untuk barang tersebut mengakibatkan semakin kecil elastisitasnya. Hal ini karena perubahan harga akan sangat berpengaruh terhadap besarnya proporsi pendapatan.
3.Jenis barang. Merupakan barang kebutuhan pokok atau bukan. Apabila barang kebutuhan pokok maka elatisitasnya kecil atau semakin inelastis, sebaliknya bila bukan maka elastisitasnya besar. Oleh karena itu barang kebutuhan pokok cenderung inelastis.
4.Lamanya periode waktu. Semakin panjang periode waktu maka semakin elastis. Hal ini karena kebiasaan pola konsumsi terbentuk dalan jangka waktu yang lama. Misalnya seorang perokok berat tidak akan serta merta mengurangi konsumsi rokoknya apabila terjadi perubahan harga.
5.Harga barang komplementernya, Bila harga barang komplementer naik maka akan mengakibatkan permintaan barang X berubah.
Elastisitas suatu barang juga sangat berpengaruh terhadap tarik – menarik pengenaan pajak dan pemberian subsidi yang akan dinikmati oleh konsumen maupun oleh produsen. Semakin inelastis maka konsumen semakin besar menanggung pajak, sebaliknya semakin elastis maka semakin besar pajak yang ditanggung oleh produsen. Untuk subsidi yang terjadi sebaliknya.
Faktor – Faktor yang mempengaruhi elastisitas adalah sebagai berikut :
1.Substitubilitas. Semakin banyak barang substitusi atau barang pengganti yang tersedia maka semakin besar elastisitasnya. Karena perubahan harga sedikit saja akan mengakibatkan konsumen mengubah besarnya barang yang diminta, demikian juga dari sisi produsen.
2.Proporsi pendapatan yang dibelanjakan untuk barang tersebut. Semakin banyak proporsi pendapatan untuk barang tersebut mengakibatkan semakin kecil elastisitasnya. Hal ini karena perubahan harga akan sangat berpengaruh terhadap besarnya proporsi pendapatan.
3.Jenis barang. Merupakan barang kebutuhan pokok atau bukan. Apabila barang kebutuhan pokok maka elatisitasnya kecil atau semakin inelastis, sebaliknya bila bukan maka elastisitasnya besar. Oleh karena itu barang kebutuhan pokok cenderung inelastis.
4.Lamanya periode waktu. Semakin panjang periode waktu maka semakin elastis. Hal ini karena kebiasaan pola konsumsi terbentuk dalan jangka waktu yang lama. Misalnya seorang perokok berat tidak akan serta merta mengurangi konsumsi rokoknya apabila terjadi perubahan harga.
5.Harga barang komplementernya, Bila harga barang komplementer naik maka akan mengakibatkan permintaan barang X berubah.
Elastisitas suatu barang juga sangat berpengaruh terhadap tarik – menarik pengenaan pajak dan pemberian subsidi yang akan dinikmati oleh konsumen maupun oleh produsen. Semakin inelastis maka konsumen semakin besar menanggung pajak, sebaliknya semakin elastis maka semakin besar pajak yang ditanggung oleh produsen. Untuk subsidi yang terjadi sebaliknya.
Pasar
Bertemunya
permintaan dan penawaran atas satu macam barang/ jasa.
Yaitu posisi di mana terdapat sejumlah barang tertentu yang mau dan mampu dibeli oleh konsumen dan dijual oleh produsen
Macam – macam Pasar
1.Pasar persaingan Sempurna
2.Pasar persaingan tidak sempurna
3.Oligopoli
4.Monopoli
Yaitu posisi di mana terdapat sejumlah barang tertentu yang mau dan mampu dibeli oleh konsumen dan dijual oleh produsen
Macam – macam Pasar
1.Pasar persaingan Sempurna
2.Pasar persaingan tidak sempurna
3.Oligopoli
4.Monopoli
- Pasar
Persaingan Sempurna
Pasar persaingan
sempurna muncul karena adanya prinsip – prinsip sebagai berikut :
1.Tidak ada satu penjual tunggal yang mempunyai sumber cukup banyak untuk dapat mempengaruhi harganya di pasar
2.Sumber variabel mempunyai mobilitas yang tinggi untuk berbagai harga pasar dan penggunaannya relatif fleksible.
Karena prinsip2 tersebut di atas maka pada pasar persaingan sempurna akan dipenuhi dengan adanya syarat – syarat sebagai berikut :
Syarat – syarat
a.Jumlah produsen di mana volume produksi hanya bagian kecil dari total volume transaksi pasar, sehingga dengan kata lain secara individual tidak bisa mempengaruhi harga pasar atau baik produsen maupun konsumen bertindak sebagai Price Taker ( penerima harga ).
b.Produk homogen ( jenis maupun kualitas )
c.Setiap produsen maupun konsumen tahu informasi pasar ( simetris information )
d.Bentuk kurva permintaan horisontal, karena tidak terdapat perubahan harga berapapun jumlah barang yang akan diminta oleh konsumen atau ditawarkan oleh produsen
e.Untuk mencapai keuntungan maksimum pada suatu perusahaan adalah dengan melihat besar volume output yang dihasilkan.
Dalam persaingan sempurna terdapat 2 keseimbangan yaitu
1.Keseimbangan produsen secara individual akan tercapai apabila keuntungan perusahaan maksimum
2.Ekuilibrium pasar apabila semua perusahaan dalam posisi equilibrium.
Pasar persaingan sempurna dibagi menjadi 2 yaitu
1.Jangka pendek dengan asumsi setiap produsen tidak bisa menambah kapasistas produksinya dan tidak ada produsen baru keluar atau masuk kedalam pasar.
2.Jangka Panjang dengan asumsi dimungkinkan adanya perluasan kapasitas produksi.
Equlibrium Perusahaan
Dalam jangka Panjang keseimbangan sudah termasuk dalam penciutan dan perluasan kapasitas produksi akibat keluar masuknya produsen baru di pasar.
Posisi apabila terdapat penambahan volume produksi
1.Tidak ada satu penjual tunggal yang mempunyai sumber cukup banyak untuk dapat mempengaruhi harganya di pasar
2.Sumber variabel mempunyai mobilitas yang tinggi untuk berbagai harga pasar dan penggunaannya relatif fleksible.
Karena prinsip2 tersebut di atas maka pada pasar persaingan sempurna akan dipenuhi dengan adanya syarat – syarat sebagai berikut :
Syarat – syarat
a.Jumlah produsen di mana volume produksi hanya bagian kecil dari total volume transaksi pasar, sehingga dengan kata lain secara individual tidak bisa mempengaruhi harga pasar atau baik produsen maupun konsumen bertindak sebagai Price Taker ( penerima harga ).
b.Produk homogen ( jenis maupun kualitas )
c.Setiap produsen maupun konsumen tahu informasi pasar ( simetris information )
d.Bentuk kurva permintaan horisontal, karena tidak terdapat perubahan harga berapapun jumlah barang yang akan diminta oleh konsumen atau ditawarkan oleh produsen
e.Untuk mencapai keuntungan maksimum pada suatu perusahaan adalah dengan melihat besar volume output yang dihasilkan.
Dalam persaingan sempurna terdapat 2 keseimbangan yaitu
1.Keseimbangan produsen secara individual akan tercapai apabila keuntungan perusahaan maksimum
2.Ekuilibrium pasar apabila semua perusahaan dalam posisi equilibrium.
Pasar persaingan sempurna dibagi menjadi 2 yaitu
1.Jangka pendek dengan asumsi setiap produsen tidak bisa menambah kapasistas produksinya dan tidak ada produsen baru keluar atau masuk kedalam pasar.
2.Jangka Panjang dengan asumsi dimungkinkan adanya perluasan kapasitas produksi.
Equlibrium Perusahaan
Dalam jangka Panjang keseimbangan sudah termasuk dalam penciutan dan perluasan kapasitas produksi akibat keluar masuknya produsen baru di pasar.
Posisi apabila terdapat penambahan volume produksi
- Pasar
Monopoli
Ciri – ciri
pasar monopoli
1.Produsen sebagai ‘Price Maker’
2.Permintaan pasar merupakan bentuk dari permintaan perusahaan
3.Marginal Revenue lebih rendah daripada averagenya
4.MR berslope negatif
Sebab – sebab terjadinya monopoli
1.Penguasaan bahan mentah strategis = Absolut advantage
2.Adanya hak paten = Competitive Advantage
3.Terbatasnya pasar
4.Pemberian hak monopoli oleh pemerintah
Apabila dalam jangka panjang ada keuntungan maka perusahaan akan menciptakan Barier to Entry atau hambatan bagi produsen lain untuk ikut masuk pada pasar.
Macam – macam Barier to Entry
1. Natural Barier, yaitu hambatannya tercipta secara alami
a.Minimum Efficiency to Scale, perusahaan tersebut secara alami karena lokasi, Sumber Daya, tehnologi memungkinkan dia untuk berporduksi dengan biaya lebih murah. Mengacu pada comparative advantage
b.Set Up Cost. Perusahaan yang bersangkutan merupakan satu-satunya yang mampu membiayai seluruh kegiatan produksi yang tinggi
2.Created Barier. Hambatan yang diciptakan
a.Hak Paten
b.Forcement, Threatment, Sabotage.
antara pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli bisa ditunjukkan oleh grafik ini
1.Produsen sebagai ‘Price Maker’
2.Permintaan pasar merupakan bentuk dari permintaan perusahaan
3.Marginal Revenue lebih rendah daripada averagenya
4.MR berslope negatif
Sebab – sebab terjadinya monopoli
1.Penguasaan bahan mentah strategis = Absolut advantage
2.Adanya hak paten = Competitive Advantage
3.Terbatasnya pasar
4.Pemberian hak monopoli oleh pemerintah
Apabila dalam jangka panjang ada keuntungan maka perusahaan akan menciptakan Barier to Entry atau hambatan bagi produsen lain untuk ikut masuk pada pasar.
Macam – macam Barier to Entry
1. Natural Barier, yaitu hambatannya tercipta secara alami
a.Minimum Efficiency to Scale, perusahaan tersebut secara alami karena lokasi, Sumber Daya, tehnologi memungkinkan dia untuk berporduksi dengan biaya lebih murah. Mengacu pada comparative advantage
b.Set Up Cost. Perusahaan yang bersangkutan merupakan satu-satunya yang mampu membiayai seluruh kegiatan produksi yang tinggi
2.Created Barier. Hambatan yang diciptakan
a.Hak Paten
b.Forcement, Threatment, Sabotage.
antara pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli bisa ditunjukkan oleh grafik ini
Diskriminasi Harga
Produsen
menetapkan harga yang berbeda untuk produk yang sama. Misalnya harga untuk umum
dan mahasiswa.
Untuk masyarakat adanya barang yang lebih banyak sehingga punya efek positif Distribusi Income.
Dumping dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
1.Dumping predatory
2.Dumping sporadis ( over produksi/ supply )
Untuk masyarakat adanya barang yang lebih banyak sehingga punya efek positif Distribusi Income.
Dumping dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
1.Dumping predatory
2.Dumping sporadis ( over produksi/ supply )
Cartel
Yaitu kesepakatan dari beberapa produsen dalam industri yang sama untuk membatasi produknya sehingga diperoleh profit maksimum bersama. Terdapat Quota Produksi.
Atau secara bersama – sama bertindak sebagai monopolis.
Masalahnya adalah :
1.Bagaimana supaya perusahaan mentaati kuota produksi yang telah disepakati.
2.Bagaimana supaya profit yang diharapkan tidak berkurang dengan masuknya perusahaan lain.
Monopoli Dan Kesejahteraan Masyarakat
a.Dalam distribusi pendapatan terjadi ketidakadilan
b.Volume produksi lebih kecil dari output optimum. Karena bisa terjadi inefisiensi dimana produsen tidak memanfaatkan economic of Scale
c.Eksploitasi oleh Produsen terhadap Konsumen dan terhadap Pemilik Faktor Produksi.
Cara menghilangkan efek negatif dari Monopoli
a.Mencegah timbulnya monopoli
b.Pemerintah mendirikan perusahaan tandingan
c.Import barang
d.Dibuat peraturan khusus / Undang – Undang.
Yaitu kesepakatan dari beberapa produsen dalam industri yang sama untuk membatasi produknya sehingga diperoleh profit maksimum bersama. Terdapat Quota Produksi.
Atau secara bersama – sama bertindak sebagai monopolis.
Masalahnya adalah :
1.Bagaimana supaya perusahaan mentaati kuota produksi yang telah disepakati.
2.Bagaimana supaya profit yang diharapkan tidak berkurang dengan masuknya perusahaan lain.
Monopoli Dan Kesejahteraan Masyarakat
a.Dalam distribusi pendapatan terjadi ketidakadilan
b.Volume produksi lebih kecil dari output optimum. Karena bisa terjadi inefisiensi dimana produsen tidak memanfaatkan economic of Scale
c.Eksploitasi oleh Produsen terhadap Konsumen dan terhadap Pemilik Faktor Produksi.
Cara menghilangkan efek negatif dari Monopoli
a.Mencegah timbulnya monopoli
b.Pemerintah mendirikan perusahaan tandingan
c.Import barang
d.Dibuat peraturan khusus / Undang – Undang.
3. Persaingan Monopolistik
Pada
pasar persaingan monopolistik terdapat adanya unsur kompetisi yang didasarkan
kenyataan bahwa terdapat banyak perusahaan / produsen dimana tindakan satu
produsen akan mempengaruhi produsen yang lain. Tetapi juga terdapat unsur
monopoli di mana perusahaan memproduksi barang yang homogen tapi masing-masing
mempunyai perbedaan yang signifikan sehingga konsumen punya pilihan.
Ciri – ciri Persaingan Monopolistik
1.Terdapat banyak perusahaan dalam industri tersebut
2.Tindakan / keputusan yang diambil oleh suatu perusahaan akan mempengaruhi perusahaan yang lain.
3.Kurva permintaan perusahaan pesaing adalah berslope negatif dan cukup elastis
4.Meski jenis produknya sama tapi tidak homogen, terdapat perbedaan yang menyebabkan konsumen mempunyai pilihan
5.Persaingan yang dilakukan bukan dalam bentuk harga
6.Tidak terdapat rintangan untuk keluar masuk pasar
Perbedaan Pasar Persaingan Sempurna & Pasar Persaingan Monopolistik
Persaingan Sempurna
Persaingan Monopolistik
Produknya homogen
Jumlah produsen sangat banyak dan pengaruh terhadap harga tidak ada
Tidak perlu bersaing karena produsen tidak bisa mempengaruhi harga
Produknya sama tapi dibedakan dengan merk, kemasan
Hanya sedikit produsen dan masing-masing berpengaruh atas segmen
Persaingan yang terjadi bukan bersifat harga, tapi cenderung iklan
Ciri – ciri Persaingan Monopolistik
1.Terdapat banyak perusahaan dalam industri tersebut
2.Tindakan / keputusan yang diambil oleh suatu perusahaan akan mempengaruhi perusahaan yang lain.
3.Kurva permintaan perusahaan pesaing adalah berslope negatif dan cukup elastis
4.Meski jenis produknya sama tapi tidak homogen, terdapat perbedaan yang menyebabkan konsumen mempunyai pilihan
5.Persaingan yang dilakukan bukan dalam bentuk harga
6.Tidak terdapat rintangan untuk keluar masuk pasar
Perbedaan Pasar Persaingan Sempurna & Pasar Persaingan Monopolistik
Persaingan Sempurna
Persaingan Monopolistik
Produknya homogen
Jumlah produsen sangat banyak dan pengaruh terhadap harga tidak ada
Tidak perlu bersaing karena produsen tidak bisa mempengaruhi harga
Produknya sama tapi dibedakan dengan merk, kemasan
Hanya sedikit produsen dan masing-masing berpengaruh atas segmen
Persaingan yang terjadi bukan bersifat harga, tapi cenderung iklan
Unsur
terpenting dalam Pasar Persaingan Monopolistik adalah:
1.Produsen jumlahnya cukup banyak, dengan barang yang homogen tapi mempunyai diferensiasi produk. Diferensiasi ini yang akan diunggulkan oleh perusahaan untuk menarik pangsa pasar. Misalnya lokasi, fasilitas pembayaran , periklanan dll, yang sifatnya bukan harga.
2.Rintangan masuk dalam pasar adalah karena faktor finansial.
3.Kecenderungan pasar persaingan monopolistik yang produsennya banyak menyebabkan tingkat kapasitas produksinya rendah / tidak bekerja dengan optimal sehingga untuk meraih keuntungan dengan menetapkan harga yang relatif tinggi. (Misalnya banyaknya apotik pada satu kota tertentu).
Karena itu maka perusahaan yang ada dalam pasar persaingan monopolistik banyak yang melakukan diferensiasi produk agar mampu bertahan dan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang. Misalnya dengan penciptaan barang yang sama tapi dengan type, style, merk dan harga yang berbeda untuk menjangkau hampir semua pangsa pasar yang ada. (Mis. Pasar Sabun ( Lux, Giv, Lifebouy ) , Pasar Shampo (Clear, Sunsilk, Pantene) dll )
Advertensi merupakan hal yang paling pokok dalam pasar persaingan monopolistik.
Advertensi dan promosi penjualan mencoba membujuk konsumen dengan mencocokkan permintaan dengan produk yang ditawarkan penjual sementara Diferensiasi Produk berusaha menohok selera yang dimilikinya dengan penganekaragaman jenis barang.
Tujuan Iklan adalah :
a.Membedakan produk perusahaan dengan perusahaan lain untuk jenis barang yang sama dan menimbulkan kefanatikkan atau kesetiaan terhadap merk tertentu.
b.Membuat kurva menjadi kurang elastis ( in elastis ) atau semakin curam yang artinya perubahan terhadap harga tidak akan memberikan pengaruh yang terlalu besar terhadap permintaan akan barang.
1.Produsen jumlahnya cukup banyak, dengan barang yang homogen tapi mempunyai diferensiasi produk. Diferensiasi ini yang akan diunggulkan oleh perusahaan untuk menarik pangsa pasar. Misalnya lokasi, fasilitas pembayaran , periklanan dll, yang sifatnya bukan harga.
2.Rintangan masuk dalam pasar adalah karena faktor finansial.
3.Kecenderungan pasar persaingan monopolistik yang produsennya banyak menyebabkan tingkat kapasitas produksinya rendah / tidak bekerja dengan optimal sehingga untuk meraih keuntungan dengan menetapkan harga yang relatif tinggi. (Misalnya banyaknya apotik pada satu kota tertentu).
Karena itu maka perusahaan yang ada dalam pasar persaingan monopolistik banyak yang melakukan diferensiasi produk agar mampu bertahan dan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang. Misalnya dengan penciptaan barang yang sama tapi dengan type, style, merk dan harga yang berbeda untuk menjangkau hampir semua pangsa pasar yang ada. (Mis. Pasar Sabun ( Lux, Giv, Lifebouy ) , Pasar Shampo (Clear, Sunsilk, Pantene) dll )
Advertensi merupakan hal yang paling pokok dalam pasar persaingan monopolistik.
Advertensi dan promosi penjualan mencoba membujuk konsumen dengan mencocokkan permintaan dengan produk yang ditawarkan penjual sementara Diferensiasi Produk berusaha menohok selera yang dimilikinya dengan penganekaragaman jenis barang.
Tujuan Iklan adalah :
a.Membedakan produk perusahaan dengan perusahaan lain untuk jenis barang yang sama dan menimbulkan kefanatikkan atau kesetiaan terhadap merk tertentu.
b.Membuat kurva menjadi kurang elastis ( in elastis ) atau semakin curam yang artinya perubahan terhadap harga tidak akan memberikan pengaruh yang terlalu besar terhadap permintaan akan barang.
4.Pasar Oligopoli Pasar Oligopoli menunjukkan adanya produsen yang jumlahnya terbatas/ sedikit dan jumlah konsumen yang sangat banyak. Terdapat 2 macam oligopoli yaitu
1.Produknya homogen ( baja, semen, pupuk dll )
2.Terdapat diferensiasi Produk ( Otomotif, Rokok dll )
Tindakan yang dilakukan oleh seorang produsen akan langsung ditanggapi oleh produsen yang lain.
Ciri – ciri pasar Oligopoli
a.Terdapat beberapa orang produsen dengan konsumen yang relatif banyak. Tiap produsen mempunyai pengaruh atas harga.
b.Terdapat barier to entry bagi produsen lain sehingga jumlah perusahaan akan cenderung konstan.
c.Penguasaan pangsa pasar ditunjukkan dengan nisbah konsentrasi penjualan yang dihitung berdasarkan jumlah atau persentase aktiva perusahaan terhadap total aktiva pasar.
d.Perang harga merupakan unsur yang sangat dihindari karena akan menimbulkan kerusakan secara masal dalam pasar oligopoli. Untuk menghindarinya maka dilakukan kolusi antar perusahaan. Sehingga cenderung akan menciptakan kartel.
e.Perusahaan yang tidak mampu bersaing akan cenderung melakukan merger dengan perush yang kuat.
f.Inovasi dan penguasaan terhadap tehnologi merupakan unsur yang penting dalam kemajuan perusahaan.
Perbaikan kualitas produk akan memperluas pangsa dan menurunkan biaya produksi yang tidak akan bisa ditiru dengan cepat oleh pesaingnya.
Banyaknya pesaing yang kuat akan memaksa perusahaan melakukan efisiensi dalam segi biaya secara maksimum. ( Economic of scale ) dg comparative advantage
Tinjauan umum
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisa pasar beserta
mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi
dari sumber terbatas di antara banyak penggunaan alternatif. Ekonomi mikro
menganalisa kegagalan pasar, yaitu
ketika pasar gagal dalam memproduksi hasil yang efisien; serta menjelaskan
berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang
penelitian yang penting dalam ekonomi mikro, meliputi pembahasan mengenai
keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan pasar dalam informasi asimetris,
pilihan dalam situasi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi ekonomi dari teori
permainan. Juga mendapat perhatian ialah pembahasan mengenai elastisitas produk dalam sistem pasar.
Asumsi dan definisi
Teori penawaran dan permintaan biasanya
mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar persaingan sempurna. Implikasinya
ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam pasar, dan tidak satupun di
antara mereka memiliki kapasitas untuk memengaruhi harga barang dan jasa secara
signifikan. Dalam berbagai transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini ternyata
gagal, karena beberapa individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki
kemampuan untuk memengaruhi harga. Seringkali, dibutuhkan analisa yang lebih
mendalam untuk memahami persamaan penawaran-permintaan terhadap suatu barang.
Bagaimanapun, teori ini bekerja dengan baik dalam situasi yang sederhana.Ekonomi arus utama (mainstream economics) tidak berasumsi apriori bahwa pasar lebih disukai daripada bentuk organisasi sosial lainnya. Bahkan, banyak analisa telah dilakukan untuk membahas beragam kasus yang disebut "kegagalan pasar", yang mengarah pada alokasi sumber daya yang suboptimal, bila ditinjau dari sudut pandang tertentu (contoh sederhananya ialah jalan tol, yang menguntungkan semua orang untuk digunakan tetapi tidak langsung menguntungkan mereka untuk membiayainya). Dalam kasus ini, ekonom akan berusaha untuk mencari kebijakan yang akan menghindari kesia-siaan langsung di bawah kendali pemerintah, secara tidak langsung oleh regulasi yang membuat pengguna pasar untuk bertindak sesuai norma konsisten dengan kesejahteraan optimal, atau dengan membuat "pasar yang hilang" untuk memungkinkan perdagangan efisien dimana tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dipelajari di bidang tindakan kolektif. Harus dicatat juga bahwa "kesejahteraan optimal" biasanya memakai norma Pareto, dimana dalam aplikasi matematisnya efisiensi Kaldor-Hicks, tidak konsisten dnegan norma utilitarian dalam sisi normatif dari ekonomi yang mempelajari tindakan kolektif, disebut pilihan masyarakat/publik. Kegagalan pasar dalam ekonomi positif (ekonomi mikro) dibatasi dalam implikasi tanpa mencampurkan kepercayaan para ekonom dan teorinya.
Permintaan untuk berbagai komoditas oleh perorangan biasanya disebut sebagai hasil dari proses maksimalisasi kepuasan. Penafsiran dari hubungan antara harga dan kuantitas yang diminta dari barang yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain, pilihan pengaturan seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para konsumen.
Model operasi
Diasumsikan bahwa semua perusahaan mengikuti pembuatan keputusan rasional,
dan akan memproduksi pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Dalam asumsi ini,
ada empat kategori dimana keuntungan perusahaan akan dipertimbangkan:- Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan ekonomi ketika average total cost lebih rendah dari setiap produk tambahan pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Keuntungan ekonomi adalah setara dengan kuantitas keluaran dikali dengan perbedaan antara average total cost dan harga.
- Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan normal ketika keuntungan ekonominya sama dengan nol. Keadaan ini terjadi ketika average total cost setara dengan harga pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
- Jika harga adalah di antara average total cost dan average variable cost pada keluaran maksimalisasi keuntungan, maka perusahaan tersebut dalam kondisi kerugian minimal. Perusahaan ini harusnya masih meneruskan produksi, karena kerugiannya akan makin membesar jika berhenti produksi. Dengan produksi terus menerus, perusahaan bisa menaikkan biaya variabel dan akhirnya biaya tetap, tetapi dengan menghentikan semuanya akan mengakibatkan kehilangan semua biaya tetapnya.
- Jika harga dibawah average variable cost pada maksimalisasi keuntungan, perusahaan harus melakukan penghentian. Kerugian diminimalisir dengan tidak memproduksi sama sekali, karena produksi tidak akan menghasilkan keuntungan yang cukup signifikan untuk membiayai semua biaya tetap dan bagian dari biaya variabel. Dengan tidak berproduksi, kerugian perusahaan hanya pada biaya tetap. Dengan kehilangan biaya tetapnya, perusahaan menemui tantangan. Akan keluar dari pasar seutuhnya atau tetap bersaing dengan risiko kerugian menyeluruh.
Kegagalan pasar
Dalam ekonomi mikro, istilah "kegagalan pasar" tidak berarti bahwa
sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah
situasi dimana sebuah pasar
efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen.
Ekonom normalnya memakai istilah ini pada situasi dimana inefisiensi sudah dramatis,
atau ketika disugestikan bahwa institusi non pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di
sisi lain, pada konteks politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah
kegagalan pasar untuk situasi saat pasar dipaksa untuk tidak melayani "kepentingan publik",
sebuah pernyataan subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau
sosial.Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :
- Monopoli atau dalam
kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar dimana "sebuah"
pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau
keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan
undang-undang anti-trust.
- Eksternalitas, dimana
terjadi dalam kasus dimana "pasar tidak dibawa kedalam akun dari
akibat aktivitas ekonomi di dalam orang luar/asing." Ada
eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas positif
terjadi dalam kasus seperti dimana program kesehatan keluarga di televisi
meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi ketika proses
dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air. Eksternalitas
negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau
subsidi, atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan
atau perorangan untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf
yang seharusnya.
- Barang
publik
seperti pertahanan
nasional
dan kegiatan dalam kesehatan publik
seperti pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk
diserahkan pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin
akan dibasmi. Untuk menyediakan penawaran yang baik dari barang publik,
negara biasanya menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk
untuk membayar pada barang publik tersebut (berkaitan dengan pengetahuan
kurang dari eksternalitas positif pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial).
- Kasus
dimana terdapat informasi asimetris
atau ketidak pastian (informasi yang inefisien). Informasi asimetris
terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang
lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjual yang
lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak
selalu terjadi dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas
mungkin mengetahui bagaimana mobil tersebut telah digunakan sebagai mobil
pengantar atau taksi, informasi yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh
dimana pembeli memiliki informasi lebih baik dari penjual merupakan
penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian penghuni
sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki
informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang
ditinggalkan. Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminar tentang
kesehatan tahun 1963 berjudul "ketidakpastian dan Kesejahteraan
Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan, " di dalam American Economic
Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah
informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for
Lemons. Akerlof menyadari bahwa, dalam pasar seperti itu, nilai
rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas
yang sangat sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki
cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah
"lemon" (produk yang menyesatkan).
Biaya peluang
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) kadang-kadang sulit untuk
dihitung, efek dari biaya peluang sangatlah universal dan nyata pada tingkat
perorangan. Bahkan, prinsip ini dapat diaplikasikan kepada semua keputusan, dan
bukan hanya bidang ekonomi. Sejak kemunculannya dalam karya seorang ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser,
sekarang biaya peluang dilihat sebagai dasar dari teori nilai marjinal.Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan dari sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga mengenali cara alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama. Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari alternatif terbaik lainnya; adalah merupakan biaya peluang dari pilihan pertama. Sebuah contoh umum adalah seorang petani yang memilih mengolah pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke tetangga. Maka, biaya peluangnya adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan tersebut. Dalam kasus ini, sang petani mungkin mengharapkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan yang dilakukannya sendiri. Begitu juga dengan memasuki universitas dan mengabaikan upah yang akan diterima jika memilih menjadi pekerja, yang dibanding dengan biaya pendidikan, buku, dan barang lain yang diperlukan (sebagai biaya total dari kehadirannya di universitas). Contoh lainnya ialah biaya peluang dari melancong ke Bahamas, yang mungkin merupakan uang untuk pembayaran cicilan rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari alternatif yang ada, melainkan lebih kepada keuntungan dari suatu pilihan alternatif yang terbaik. Biaya peluang yang mungkin dari keputusan sebuah kota membangun rumah sakit di lahan kosong, merupakan kerugian dari lahan untuk gelanggang olahraga, atau ketidakmampuan untuk menggunakan lahan menjadi sebuah tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari menjual lahan tersebut, atau kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam - tapi bukan merupakan agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang sebenarnya, merupakan keuntungan yang akan hilang dalam jumlah terbesar di antara alternatif-alternatif yang telah disebutkan tadi.
Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana menghitung keuntungan dari alternatif yang tidak sama. Kita harus menentukan sebuah nilai uang yang dihubungkan dengan tiap alternatif untuk memfasilitasi pembandingan dan penghitungan biaya peluang, yang hasilnya lebih-kurang akan menyulitkan untuk dihitung, tergantung dari benda yang akan kita bandingkan. Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang melibatkan dampak lingkungan, nilai uangnya sangat sulit untuk dihitung karena ketidakpastian ilmiah. Menilai kehidupan seorang manusia atau dampak ekonomi dari tumpahnya minyak di Alaska, akan melibatkan banyak pilihan subyektif dengan implikasi etisnya.
Penerapan ekonomi
mikro
Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak di
antaranya menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi dan organisasi
industri mempelajari topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi,
aturan merek dagang. Hukum dan Ekonomi
menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi
dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. Ekonomi Perburuhan
mempelajari upah, kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. Finansial publik
(juga dikenal dengan ekonomi publik) mempelajari rancangan dari pajak
pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek ekonomi dari kebijakan-kebijakan
tersebut (contohnya, program asuransi sosial). Ekonomi kesehatan
mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari pegawai
kesehatan dan program asuransi kesehatan. Politik ekonomi mempelajari
peran dari institusi politik dalam menentukan keluarnya sebuah kebijakan. Ekonomi
kependudukan, yang mempelajari tantangan yang dihadapi oleh kota-kota,
seperti gepeng, polusi air dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan,
digambarkan dalam geografi kependudukan dan sosiologi. Finansial Ekonomi
mempelajari topik seperti struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari
pengembalian ke modal, analisa ekonometri dari keamanan pengembalian, dan
kebiasaan finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi
dari ekonomi dan institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang
ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik.
Pemecahan Pasar
atas Masalah Ekonomi Dasar
Mekanisme
pasar yang berlangsung melalui permintaan dan penawaran berfungsi memecahkan
tiga masalah dasar dari organisasi ekonomi.Mencakup Apa,Bagaimana,dan Bagi
siapa.
Walaupun
mekanisme pasar merupakan cara yang dikehendaki dalam memproduksi dan
mengalokasi barang,tetapi mekanisme ini mengandung tiga jenis kegagalan yang
selalu menyertainya.Untuk memperbaiki kegagalan ini pemerintah ikut campur
tangan untuk menjamin adanya efisiensi,keadilan dan stabilitas.
Pasar
akan gagal melakukan alokasi barang secara efisien bila terdapat faktor-faktor
diluar mekanisme(externalities) atau persaingan tidak sempurna.Persaingan tidak
sempurna serperti monopoli sering kali mendorong keluarnya peraturan pemerintah
taau bahkan pemerintah mengambil alih kepemilikannya .Eksternalitas terjadi
bila perusahaan membebani biaya atau memberikan manfaat pada pihak lain di luar
pasar,seperti misalnya bila pabrik baja menyemprotkan asap buangan ke udara dan
mengotori masyarakat lingkingannya tanpa mengganti biaya.Bila hal ini terjadi
maka pemrintah bisa ikut campur tangan dan menerapkan peraturan untuk
melindungi masyarakat atau terkadang justru melibatkan diri dalam produksi
barang-barang fasilitas umum.
Pemerintah
muncul bila warganegara memilih untuk mengubah pola pendapatan yang dihasilkan
oleh upah sewa,bunga dan deviden.Pemerintah modern menerapkan sistem perpajakan
progresif untuk menghimpun dana bagi program-program yang diperlukan bagi
kesejahteraan kehidupan rakyat miskin.
Pemerintah melalui kebijakan stabilisasi berusaha untuk mengikis fluktuasi
tajam dari siklus ekonomi(business cycle ) dengan cara menekan angka pengangguran,dan
inflasi serta mempercepat laju pertumbuhan
ekonomi.Permasalahan Ekonomi Mikro di Indonesia
a. Masalah Harga Dasar dan Harga Tertinggi
Krisis ekonomi yang pernah melanda dunia terjadi cukup lama dan diyakini bahwa mekanisme pasar tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi tersebut. Artinya, keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar tidak tercapai. Pengaruh dari krisis tersebut adalah melambungnya harga berbagai jenis barang yang di butuhkan oleh produsen dan konsumen.
Salah satu campur tangan pemerintah dalam permasalahan ini ialah kebijakan pemerintah mengenai harga dasar (floor price) dan harga tertinggi (ceiling price). Tujuan penentuan harga dasar adalah untuk membantu produsen, sedangkan harga tertinggi untuk membantu konsumen. Misalnya, musim panen padi menyebabkan jumlah beras melimpah. Akibatnya, harga beras turun sehingga para petani mengalami kerugian. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menentukan harga dasar (floor price) beras untuk membantu para petani.
b. Meningkatnya Permintaan Beras
Gagal panen akan menyebabkan berkurangnya penawaran beras sehingga harga beras akan naik. Tingginya harga beras akan menambah beban hidup masyarakat yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap. Untuk mengatasi pasokan beras ini, pemerintah melakukan program impor beras melalui tender terhadap beberapa perusahaan swasta nasional dan asing.
c. Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
Sehubungan dengan naiknya harga BBM, para pengusaha angkutan umum bus kota, angkutan kota (angkot), dan taksi mengalami penurunan pendapatan dan mengurangi laba bagi pengusaha dan para sopir. Untuk menyesuaikan kenaikan harga BBM tersebut, beberapa pengusaha angkutan umum menaikkan tarifnya secara sepihak. Tindakan ini tentu sajaakan memberatkan para konsumen
pengguna jasa angkutan. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah bersama para asosiasi pengusaha angkutan melakukan penyesuaian tarif angkutan umum dengan menetapkan tarif resmi bagi para pengusaha bus kota, angkutan kota dan taksi. Besarnya tarif resmi ini tentu tidak memberatkan konsumen atau juga tidak merugikan pengusaha angkutan umum.
d. Masalah Monopoli
Praktik monopoli akan mengakibatkan penguasaan pasar terhadap barang atau jasa tertentu yang dihasilkan oleh satu perusahaan. Praktik monopoli seringkali merugikan masyarakat dan konsumen. Di samping itu, monopoli akan mempersempit peluang usaha bagi masyarakat lain sehingga kurang menumbuhkan semangat berwirausaha masyarakat. Perusahaan yang melakukan praktik monopoli seringkali mempermainkan dan menetapkan harga tanpa mempertimbangkan kelompok masyarakat yang memiliki usaha sejenis. Hal ini akan menghancurkan para pesaing.
Untuk menghindari kegiatan praktik monopoli, pemerintah membuat peraturan yang mengatur tentang kegiatan usaha agar menumbuhkan iklim usaha yang sehat bagi masyarakat, yaitu UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
e. Masalah Distribusi
Jalur
distribusi barang dan jasa yang panjang akan mengakibatkan tingkat harga barang
menjadi tinggi dan mahal ketika sampai ke tangan konsumen. Untuk itu, beberapa
upaya telah dilakukan oleh pemerintah atau swasta untuk memperpendek jalur
distribusi sehingga harga barang ketika sampai ke tangan konsumen tidak mahal.
Misalnya, PT. Coca Cola Indonesia melakukan distribusi barang melalui lebihdari
120 pusat penjualan di seluruh Indonesia dan didistribusikan langsung melalui
ke pedagang eceran (80% pengecer) dan grosir dan 90% masuk kategori usaha kecil.


0 komentar:
Posting Komentar