TUGAS
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
DISUSUN
OLEH:
NAMA :
ANAS TAS NIA DEWI NUR KOMARIAH
NIM :K7411017
PRODI :
PENDIDIKAN EKONOMI
KELAS :A1
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN
AJARAN 2012/2013
SOAL:
1.
Apa
yang harus diusahakan oleh guru agar potensi peserta didik bisa berkembang
kearah yang positif sehingga potensi yang dipunyai tidak sia-sia ?
2.
Apa
yang harus dihindari pendidik kepada peserta didik yang punya cacat fisik ?
JAWAB :
1.
Seorang
pendidik harus berusaha memahami dan mengidentifikasi bakat-bakat apa saja yang
dimiliki oleh peserta didik. Setelah mengetahui bakat-bakat apa saja yang
dimiliki peserta didik maka seanjutnya diarahkan dengan memberikan kegiatan
ekstrakulikuler sebagai sarana penyaluran bakat dan minat peserta didik. Jika
tidak ada media penyaluran bakat yang
tepat dilingkungan sekolah maka hal lain yang dapat dilakukan oleh seorang
pendidik adalah memberikan beberapa referensi mengenai tempat-tempat penyaluran
bakat yang tepat bagi anak didik mereka. Dengan menekuni bakat-bakat yang
dimiliki peserta didik maka apa yang dimilikinya tidak akan sia-sia bahkan
menjadi hilang tapi akan terus diasah agar nantinya dapat membawa dampak yang
positif tidak hanya untuk dirinya pribadi tetapi juga untuk orang-orang
disekitarnya. Seorang pendidik disini menjalankan tugas mendidik dan membentuk
karakter yang baik pada peserta didik tentunya tidak bisa bekerja dan berusaha
sendiri melainkan, harus bekerjasama dengan orangtua siswa sebagaipihak yang
memiliki pengaruh yang besar pada peserta didik. Dengan adanya link yang baik
antara pendidik, orangtua, dan peserta didik sendiri maka proses pembentukan
diri peserta didik dengan berbagai macam karakter dan bakat-bakatnya akan
berlangsung dengan baik. Jika dijabarkan lebih lanjut mengenai parenan guru
dalam upaya pengembangan bakat ini akan tampak satu benang merah yang sangat
kuat. Tapi sebelum itu harus dipahami terlebih dahulu bahwa ada beberapa
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi bakat peserta didik yaitu :
Ø Anak itu sendiri
Misalnya
anak itu tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang
ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau
mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami
hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
Ø Lingkungan anak
Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan
kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonominya tinggi tetapi
kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak. Setelah
memahami hal tersebut maka akan lahir beberapa kendala yang dihadapi seorang
guru sebagai pendidik dalam upaya mengembangkan bakat peserta didik yaitu dalam
kenyataannya, seseorang sering menghadapi kendala dalam mengembangkan
kreatifitasnya. Dari beberapa sumber kendala tersebut salah satu diantaranya
adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari oleh guru atau sekolah, sering kita
temui beberapa tindakan guru yang bermaksud untuk mengembangkan kreatifitas,
namun tindakan yang dilakukan justru membunuh kreatifitas itu sendiri.
Misalnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa angka-angka ketimbang
proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa
tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan
khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan
pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi
yang terlalu detail tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa
tidak mampu berkreasi secara bebas. Setelah mengetahui hambatan-hambatan yang
secara umum ini maka sebagai seorang pendidik ada langkah revolusi untuk
mengembangkan kreativitas mereka. Secara langsung maupun tidak langsung
terdapat hubungan yang erat antara bakat dan prestasi peserta didik karena bakat memungkinkan seseorang untuk
mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan,
pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat
terwujud. Misalnya seorang mempunyai bakat menggambar, jika ia tidak pernah
diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak.
Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan
mengusahakan agar ia mendapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk
mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk
mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi yang
unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal. Sebaliknya, seorang anak yang
mendapat pendidikan menggambar dengan baik, namun tidak memiliki bakat
menggambar, maka tidak akan pernah mencapai prestasi unggul untuk bidang
tersebut. Keunggulan yang dimiliki siswa dalam salah satu bidang baik seni,
sastra auatupun matematika merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa
sejak lahir dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan dorongan
pribadi. Maka secara global hal-hal yang dapat dilakukan
seorang pendidik dalam upaya pegembangan bakat peserta didik yaitu :
a.
Sejak usia dini
cermati berbagai kelebihan, keterampilan dan kemampuan yang tampak menonjol
pada anak
b.
Bantu anak
meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya
c.
Kembangkan konsep diri positif pada
anak
d.
Perkaya anak dengan berbagai
wawasan, pengetahuan serta pengalaman di berbagai bidang
e.
Usahakan berbagai cara untuk
meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang keunggulannya serta
bidang-bidang lain yang berkaitan
f.
Tingkatkan
motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya
g.
Stimulasi anak untuk meluaskan
kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain
h.
Berikan penghargaan dan pujian untuk
setiap usaha yang dilakukan anak
i.
Sediakan dan
fasilitasi sarana bagi pengembangan bakat
j.
Dukung anak
untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya
k.
Jalin hubungan
baik serta akrab antara orang tua / guru dengan anak
l.
Menyalurkan bakat tersebut
m.
Memberikan kesempatan untuk
mengikuti lomba-lomba sesuai bakat yang dimiliki
2. Peserta
didik yang memiliki cacat fisik harus mendapatkan pelayanan yang lebih dari
para pendidik jika dibandingkan dengan peserta didik dngan keadaan normal.
Peserta didik yang menderita cacat tetap berhak mendapatkan pendidikan maka
disediakan sekolah-sekolah khusus untuk mereka. Sebagai pendidik tidak boleh
memberikan hukuman fisik kepada peserta didik. Boleh memberikan hukuman dengan
catatan hukuman yang diberikan itu bersifat mendidik bukan malah menciptakan
kesan dan keadaan seorang pendidik yang otoriter dan memberikan citra buruk
kepada pendidik jika melakukan hukuman fisik yang berlebihan kepada peserta
didik. Sebenarnya mengetahui ketidakmampuan dan gangguan
pada anak perlu dilakukan untuk menentukan strategi dan model pembelajaran.
Pada umumnya ketidakmampuan dan gangguan anak meliputi, gangguan organ indra
(sensory), gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa,
gangguan belajar (learning disorder), attention deficit hyperactivity disorder,
dan gangguan emosional dan prilaku. Bahwa ketidakmampuan dan gangguan pada anak
bukanlah suatu hambatan untuk merencanakan trategi pembelajaran. Bahkan,
ketidakmampuan anak diperlukan sebagai tantangan untuk mencari dan menentukan
suatu strategi pembelajaran.
Penting bagi praktisi pendidikan untuk mengetahui, memahami dan mempelajari secara intensif bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan pada pebelajar. Hal ini diperlukan untuk memungkinkan kita untuk mendesain sebuah pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pebelajar. Di samping mengetahui dan memahami bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan pada anak, pengajar hendaknya juga mengintensifkan berbagai daya dukung pembelajaran yang memungkinkan dapat membantu mengatasi ketidakmampuan yang dialami anak. Selain itu juga melakukan kerja sama dengan orang tua adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam mendidik anak. Karena orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Sudah waktunya bagi kita untuk memperhatikan bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan yang dialami anak, sehingga tujuan akhir pendidikan dapat dicapai dengan baik. Maka sebagai pendidik baik guru maupun orangtua sekali lagi harus bekerjasama lebih ekstra untuk mereka yang cacat fisik serta jangan sampai melakukan tindak kekerasan dalam proses belajar-mengajar.
Penting bagi praktisi pendidikan untuk mengetahui, memahami dan mempelajari secara intensif bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan pada pebelajar. Hal ini diperlukan untuk memungkinkan kita untuk mendesain sebuah pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pebelajar. Di samping mengetahui dan memahami bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan pada anak, pengajar hendaknya juga mengintensifkan berbagai daya dukung pembelajaran yang memungkinkan dapat membantu mengatasi ketidakmampuan yang dialami anak. Selain itu juga melakukan kerja sama dengan orang tua adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam mendidik anak. Karena orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Sudah waktunya bagi kita untuk memperhatikan bentuk-bentuk ketidakmampuan dan gangguan yang dialami anak, sehingga tujuan akhir pendidikan dapat dicapai dengan baik. Maka sebagai pendidik baik guru maupun orangtua sekali lagi harus bekerjasama lebih ekstra untuk mereka yang cacat fisik serta jangan sampai melakukan tindak kekerasan dalam proses belajar-mengajar.



0 komentar:
Posting Komentar