Feeds RSS

Selasa, 23 Juli 2013


TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

 







DISUSUN OLEH:

   NAMA       : ANAS TAS NIA DEWI NUR KOMARIAH
   NIM           :K7411017
                               PRODI     :  PENDIDIKAN EKONOMI
   KELAS     :A

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2012/2013
SOAL:
1.    Coba uraikan tentang keempat dimensi (dimensi keindivualan/individualitas, dimensi kesosialan/sosialitas, dimensi kesusilaan/moralitas. Dimensi keberagamaan/religiusitas?
JAWAB:
1.    Dalam kehidupan sehari-hari dalam pelaksanaanya akan selalu berkaitan dengan ke empat dimensi tersebut, karena kehidupan kita pada dasarnya adalah aplikasi dari keempat dimensi tersebut.
Ø  Dimensi keindividualan/individualitas
Lysen mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat di bagi-bagi (in clevide). Menurut M. J Langeveld (seorang pakar pendidikan yang tersohor di Negeri Belanda) Bahwa :
setiap anak manusia, dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi, bahkan dua anak kembar yang berasal daru satu telur pun yang lazim di katakana seperti pinang dibelah dua, serupa dan sulit dibedakan suatu dari yang lain, hanya serupa tetapi tidak sama, apalagi identik.
- Dikatakan bahwa setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingnya)
-
Secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terdapat perbedaan mengenai matanya.
- Secara kerohanian mungkin kapasitas intelegensinya sama, tetapi kecendrungan dan perhatiannya terha
dap sesuatu berbeda.
Dalam dimensi ini terdapat banyak perbedaan dan banyak pula kesamaan antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Perbedaan yang ada adakalanya merupakan perbedaan yang sangat besar. Dimensi keindividualan merupakan dimensi dimana seseorang dapat mengembangkan semua potensi termasuk bakat dan minat yang ada pada dirinya secara optimal mengarah pada aspek-aspek kehidupan yang positif. Adanya perbedaan biasanya dipengaruhi oleh beberapa fakor seperti: perbedaan fisik, perbedaan kepribadian, dll. Dalam keluarga saya sangat nampak dimensi keindividualan ini. Terbukti dengan adanya beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar yang saling berdampingan dalam kehidupan kami. Contohnya saja dalam hal bakat dan minat aku dan adikku memiliki banyak perbedaan. Aku lebih suka dengan pelajaran ekonomi sedangkan adikku lebih suka dengan matematika. Aku hobi menulis dan membaca sedangkan adikku lebih hobi olahraga beladiri. Tetapi dari beberapa perbadaan tersebut kami sebagai satu keluarga juga memilki persamaan yaitu kami semua sama-sama beragama islam,berasal dari suku jawa dll. Jadi meskipun pada dasarnya kami adalah satu keluarga, kami memiliki perbedaan karena memang kami terdiri dari individu yang berbeda yang akhirnya memiliki perbedaan-perbedaan seperti dalam hal bakat dan minat tadi yang harus kami kembangkan dengan jalan yang berbada-beda pula.
Ø  Dimensi Kesosialan/sosialitas
Setiap orang yang lahir dikaruniai potensi sosialitas (M.J Langeveld, 1955) pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap anak dikarunia benih kemungkinan untuk bergaul,maka dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Immanuel Kant seorang filosof tersohor bangsa Jerman menyatakan bahwa Manusia hanya menjadi manusia jika berada di antara ma dnusia.
Pada dasarnya semua orang hidup memerlukan orang lain. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup menyenagkan dan membahagiakan jika tidak ada orang lain yang berperan terhadap dirinya. Lebih jauh, kehidupan sehari-hari setiap orang menampilkan kebersamaannya dengan orang lain. Hampir setiap kegiatan selalu melibatkan orang lain.
Begitu pula dalam keluarga saya, semua berjalan dengan keseharian yang saling membantu satu sama lain, contohnya saya sering membantu adik saya mengerjakan pekerjaan rumah ataupun terkadang disaat saya sakit adik saya yang menolong saya untuk hal-hal tertentu. Pada umumnya perkembangan dimensi individu memiliki pengaruh yang kuat terhadap dimensi kesosialan karena sifat-sifat individu seseorang akan berpangaruh terhadap kemampuannya dalan berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, bekerjasama, dan hidup dengan orang lain. Dalam keluagaku kami dibiasakan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama agar dapat hidup rukun dengan baik.
Ø  Dimensi kesusilaan/moralitas
Susila berasal dari kata Su dan Sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat pantas jika didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung, karena itu maka pengertian Susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi “kebaikan yang lebih”
- Dalam bahasa ilmiah sering digunakan dua macam istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu: etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan).Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pendapat:
a. Golongan yang menanggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya.
b. Golongan yang memandang bahwa etiket perlu dibedak
an dari etika, karena masing-masing mengandung kondisi yang tidak selamanya selalu sejalan.
-  Prijarkara mengartikan manusia Susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatan.
Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagainya, sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup.
- Dilihat dari asalnya dari mana nilai-nilai itu diproduk dibedakan atas tiga macam yaitu:
1.Nilai Otonom yang bersifat Individual (kebaikan menurut pendapat seseorang)
2.Nilai Heteronom yang bersifat kolektif (kebaikan menurut kelompok)
3.Nilai Keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan
* Pemahaman dan Pelaksanaan Nilai *
- Dalam kenyataan hidup ada 2 hal yang muncul dari persoalan nilai yaitu: kesadaran dan pemahaman nilai dan kesanggupan melaksanakan nilai.
- Idealnya keduanya harus Sinkron, artinya untuk dapat melakukan apa yang semestinya harus dilakukan, terlebih dahulu orang harus mengetahui, menyadari dan memahami nilai-nilai.

- Implikasi pedagogisnya ialah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban di samping menerima hak dari peserta didik.
Kehidupan manusia tidak bersifat acak ataupun sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan tertentu. Hampir semua kegiatan manusia, baik perorangan maupun kelompok, mengikuti aturan-aturan tertentu
Dalam keluarga saya, aspek moralitas ini ditanamkan sejak dini oleh kedua orangtua saya agar nantinya dapat menjadi bagian dari masyarakat kehidupan yang dapat menyesuaikan diri dengan segala macam aturan yang berlaku di tempat tinggal serta dapat berlaku baik sesuai dengan tatanan nilai dan norma yang berlaku.
Ø  Dimensi keberagamaan/religiusitas
Pada hakikatnya manusia adalah mahluk religius, sejak dahulu kala sebelum manusia mengenal agama mereka telah percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan inderanya, diyakini dengan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut diciptakan mitos-mitos.
            Dari sudut pandang agama, kehidupan tidak semata-mata kehidupan di dunia fana, melainkan juga menjangkau kehidupan di akhirat. Semakin di dasari keterikatan manusia pada sang pencipta. Tuhan yang maha Esa. Kesadaran tersebut pada giliranya mewarnai peri kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun kelompok, kegiatan-kegiatan kemanusiaan, baik sehari-hari Maupun yang berjangka lebih panjang, diberi warna dan jangkauan yang tidak sekedar saat ini atau hati ini saja, melainkan berjangkauan kehidupan kelak di kemudian hari.
            Dalam keluarga saya penerapan dimensi keagamaan ini sangat saya rasakan karena sejak kecil saya sudah dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengerti tentang agama islam. Saya dibiasakan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk menjalankan sholat lima waktu serta puasa di bulan ramadhan. Sebelum terbiasa melakukan hal itu terlabih dahulu orang tua saya yang memperkenalkan tentang sholat dan puasa dengan memberikan contoh kepada saya, setelah itu barulah saya diajarkan sedikit-demi sedikit sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang saya lakukan sampai sekarang. Jadi pada dasarnya keluarga memiliki peran yang sangat dominan dan mendasar tentang sosialisasi ke empat aspek kemanusiaan diatas karena dalam kehidupan ini, keluarga kit adalah tempat pertama yang bisa mengenalkan kita dengan berbagai macam lingkungan baik itu berhubungan dengan lingkungan sosial, agama, kemanusiaan, serta keindividulitasan, yang pertama kali memperkenalkannya adalah keluarga kita sendiri sehingga apa yang ada dalam diri kita terkadang diartikan orang lain sebagai cerminan keluarga kita.

0 komentar:

Posting Komentar