TUGAS
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
DISUSUN
OLEH:
NAMA :
ANAS TAS NIA DEWI NUR KOMARIAH
NIM :K7411017
PRODI :
PENDIDIKAN EKONOMI
KELAS :A
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN
AJARAN 2012/2013
SOAL:
1. Coba uraikan tentang keempat dimensi (dimensi
keindivualan/individualitas, dimensi kesosialan/sosialitas, dimensi
kesusilaan/moralitas. Dimensi keberagamaan/religiusitas?
JAWAB:
1. Dalam kehidupan sehari-hari dalam pelaksanaanya akan
selalu berkaitan dengan ke empat dimensi tersebut, karena kehidupan kita pada
dasarnya adalah aplikasi dari keempat dimensi tersebut.
Ø
Dimensi
keindividualan/individualitas
Lysen
mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan suatu
keutuhan yang tidak
dapat di bagi-bagi (in clevide). Menurut
M. J Langeveld (seorang pakar pendidikan yang tersohor di Negeri Belanda) Bahwa
:
setiap anak manusia, dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi, bahkan dua anak kembar yang berasal daru satu telur pun yang lazim di katakana seperti pinang dibelah dua, serupa dan sulit dibedakan suatu dari yang lain, hanya serupa tetapi tidak sama, apalagi identik.
setiap anak manusia, dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi, bahkan dua anak kembar yang berasal daru satu telur pun yang lazim di katakana seperti pinang dibelah dua, serupa dan sulit dibedakan suatu dari yang lain, hanya serupa tetapi tidak sama, apalagi identik.
-
Dikatakan bahwa setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingnya)
- Secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terdapat perbedaan mengenai matanya.
- Secara kerohanian mungkin kapasitas intelegensinya sama, tetapi kecendrungan dan perhatiannya terhadap sesuatu berbeda.
- Secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terdapat perbedaan mengenai matanya.
- Secara kerohanian mungkin kapasitas intelegensinya sama, tetapi kecendrungan dan perhatiannya terhadap sesuatu berbeda.
Dalam dimensi ini terdapat banyak
perbedaan dan banyak pula kesamaan antara orang yang satu dengan orang yang
lainnya. Perbedaan yang ada adakalanya merupakan perbedaan yang sangat besar.
Dimensi keindividualan merupakan dimensi dimana seseorang dapat mengembangkan
semua potensi termasuk bakat dan minat yang ada pada dirinya secara optimal
mengarah pada aspek-aspek kehidupan yang positif. Adanya perbedaan biasanya
dipengaruhi oleh beberapa fakor seperti: perbedaan fisik, perbedaan
kepribadian, dll. Dalam keluarga saya sangat nampak dimensi keindividualan ini.
Terbukti dengan adanya beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar yang
saling berdampingan dalam kehidupan kami. Contohnya saja dalam hal bakat dan
minat aku dan adikku memiliki banyak perbedaan. Aku lebih suka dengan pelajaran
ekonomi sedangkan adikku lebih suka dengan matematika. Aku hobi menulis dan
membaca sedangkan adikku lebih hobi olahraga beladiri. Tetapi dari beberapa perbadaan
tersebut kami sebagai satu keluarga juga memilki persamaan yaitu kami semua
sama-sama beragama islam,berasal dari suku jawa dll. Jadi meskipun pada
dasarnya kami adalah satu keluarga, kami memiliki perbedaan karena memang kami
terdiri dari individu yang berbeda yang akhirnya memiliki perbedaan-perbedaan
seperti dalam hal bakat dan minat tadi yang harus kami kembangkan dengan jalan
yang berbada-beda pula.
Ø
Dimensi
Kesosialan/sosialitas
Setiap orang
yang lahir dikaruniai potensi sosialitas (M.J Langeveld, 1955) pernyataan
tersebut diartikan bahwa setiap anak dikarunia benih kemungkinan untuk bergaul,maka dengan
adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Immanuel
Kant seorang filosof
tersohor bangsa Jerman menyatakan bahwa Manusia hanya menjadi manusia
jika berada di antara ma dnusia.
Pada dasarnya
semua orang hidup memerlukan orang lain. Tidak ada satu orangpun yang bisa
hidup menyenagkan dan membahagiakan jika tidak ada orang lain yang berperan
terhadap dirinya. Lebih jauh, kehidupan sehari-hari setiap orang menampilkan
kebersamaannya dengan orang lain. Hampir setiap kegiatan selalu melibatkan
orang lain.
Begitu pula
dalam keluarga saya, semua berjalan dengan keseharian yang saling membantu satu
sama lain, contohnya saya sering membantu adik saya mengerjakan pekerjaan rumah
ataupun terkadang disaat saya sakit adik saya yang menolong saya untuk hal-hal
tertentu. Pada umumnya perkembangan dimensi individu memiliki pengaruh yang
kuat terhadap dimensi kesosialan karena sifat-sifat individu seseorang akan
berpangaruh terhadap kemampuannya dalan berinteraksi, berkomunikasi, bergaul,
bekerjasama, dan hidup dengan orang lain. Dalam keluagaku kami dibiasakan untuk
menjaga hubungan baik dengan sesama agar dapat hidup rukun dengan baik.
Ø
Dimensi
kesusilaan/moralitas
Susila berasal dari kata
Su dan Sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di dalam
kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat pantas jika didalam
yang pantas
atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung, karena itu maka
pengertian Susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi “kebaikan
yang lebih”
-
Dalam bahasa ilmiah
sering digunakan dua macam istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu:
etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan
kebaikan).Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pendapat:
a. Golongan yang menanggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya.
b. Golongan yang memandang bahwa etiket perlu dibedakan dari etika, karena masing-masing mengandung kondisi yang tidak selamanya selalu sejalan.
- Prijarkara mengartikan manusia Susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatan.
Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagainya, sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup.
a. Golongan yang menanggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya.
b. Golongan yang memandang bahwa etiket perlu dibedakan dari etika, karena masing-masing mengandung kondisi yang tidak selamanya selalu sejalan.
- Prijarkara mengartikan manusia Susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatan.
Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagainya, sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup.
-
Dilihat dari asalnya dari mana nilai-nilai itu diproduk dibedakan atas tiga
macam yaitu:
1.Nilai Otonom yang bersifat Individual (kebaikan menurut pendapat seseorang)
2.Nilai Heteronom yang bersifat kolektif (kebaikan menurut kelompok)
3.Nilai Keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan
1.Nilai Otonom yang bersifat Individual (kebaikan menurut pendapat seseorang)
2.Nilai Heteronom yang bersifat kolektif (kebaikan menurut kelompok)
3.Nilai Keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan
*
Pemahaman dan Pelaksanaan Nilai *
-
Dalam kenyataan hidup ada
2 hal yang muncul dari persoalan nilai yaitu: kesadaran dan pemahaman nilai dan
kesanggupan melaksanakan nilai.
-
Idealnya keduanya harus Sinkron, artinya untuk dapat melakukan apa yang
semestinya harus dilakukan, terlebih dahulu orang harus mengetahui, menyadari
dan memahami nilai-nilai.
-
Implikasi pedagogisnya ialah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanamkan
kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban di samping menerima hak dari
peserta didik.
Kehidupan
manusia tidak bersifat acak ataupun sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan
tertentu. Hampir semua kegiatan manusia, baik perorangan maupun kelompok,
mengikuti aturan-aturan tertentu
Dalam keluarga
saya, aspek moralitas ini ditanamkan sejak dini oleh kedua orangtua saya agar
nantinya dapat menjadi bagian dari masyarakat kehidupan yang dapat menyesuaikan
diri dengan segala macam aturan yang berlaku di tempat tinggal serta dapat
berlaku baik sesuai dengan tatanan nilai dan norma yang berlaku.
Ø
Dimensi
keberagamaan/religiusitas
Pada hakikatnya manusia adalah mahluk
religius, sejak dahulu kala sebelum manusia mengenal agama mereka telah percaya
bahwa di luar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan inderanya,
diyakini dengan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta
ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut
diciptakan mitos-mitos.
Dari sudut pandang agama, kehidupan
tidak semata-mata kehidupan di dunia fana, melainkan juga menjangkau kehidupan
di akhirat. Semakin di dasari keterikatan manusia pada sang pencipta. Tuhan
yang maha Esa. Kesadaran tersebut pada giliranya mewarnai peri kehidupan
manusia, baik secara perorangan maupun kelompok, kegiatan-kegiatan kemanusiaan,
baik sehari-hari Maupun yang berjangka lebih panjang, diberi warna dan
jangkauan yang tidak sekedar saat ini atau hati ini saja, melainkan
berjangkauan kehidupan kelak di kemudian hari.
Dalam
keluarga saya penerapan dimensi keagamaan ini sangat saya rasakan karena sejak
kecil saya sudah dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengerti tentang agama
islam. Saya dibiasakan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk
menjalankan sholat lima waktu serta puasa di bulan ramadhan. Sebelum terbiasa
melakukan hal itu terlabih dahulu orang tua saya yang memperkenalkan tentang
sholat dan puasa dengan memberikan contoh kepada saya, setelah itu barulah saya
diajarkan sedikit-demi sedikit sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang
saya lakukan sampai sekarang. Jadi pada dasarnya keluarga memiliki peran yang
sangat dominan dan mendasar tentang sosialisasi ke empat aspek kemanusiaan
diatas karena dalam kehidupan ini, keluarga kit adalah tempat pertama yang bisa
mengenalkan kita dengan berbagai macam lingkungan baik itu berhubungan dengan
lingkungan sosial, agama, kemanusiaan, serta keindividulitasan, yang pertama
kali memperkenalkannya adalah keluarga kita sendiri sehingga apa yang ada dalam
diri kita terkadang diartikan orang lain sebagai cerminan keluarga kita.



0 komentar:
Posting Komentar